Soal 500 TKA China, Kemenaker: Kadin Tahu Kondisi di Lapangan?

Kompas.com - 02/05/2020, 16:31 WIB
Ilustrasi pekerja. shutterstockIlustrasi pekerja.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dirjen Binapenta dan PKK Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Aris Wahyudi menanggapi sikap para pengusaha yang mengusulkan kepada pemerintah untuk tidak mendatangkan Tenaga Kerja Asing (TKA) dalam jumlah banyak.

Hal itu lantaran banyak tenaga kerja di Indonesia yang justru hubungan kerjanya diputus oleh perusahaan karena dampak pandemi virus corona (Covid-19).

Pengusaha yang tergabung di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia justru mengusulkan untuk TKA China yang datang hanya cukup para ahli sehingga bisa memberikan transfer teknologi ke pekerja lokal.

Baca juga: Harga BBM Belum Turun, Dahlan: Sedekah Terbesar Kita ke Pertamina

Kemenaker setuju dengan usul Kadin tersebut. Namun pemerintah menilai kondisi di lapangan tak seperti yang dibayangkan oleh para pengusaha Kadin.

"Prinsip saya sangat setuju dengan pendapat orang Kadin tersebut, karena teori dan filosofinya harus seperti itu. Masalahnya apakah beliau (Kadin) tahu kondisi dan kesulitan di lapangan?," kata Aris kepada Kompas.com, Sabtu (2/5/2020).

Aris menjelaskan, kedua perusahaan yang mengajukan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) tersebut, yaitu PT Virtue Dragon Nickel Industry dan PT Obsidian Stainless Steel, sudah berupaya mencari tenaga kerja lokal untuk mengisi posisi yang dicari, namun tak mendapatkannya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Akhirnya ucapnya, pihak perusahaan mau tak mau mendatangkan TKA dari Negeri Tirai Bambu lagi. Namun Aris tidak menyebutkan secara jelas posisi apa yang dicari oleh perusahaan tersebut.

Baca juga: Rekam Jejak Virtue Dragon, Perusahaan Penampung 500 TKA China

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Bidang Good Corporate Governance (GCG) dan Corporate Social Responsibility (CSR) Suryani Sidik Motik merasa miris mendengar rencana kedatangan 500 TKA China.

"Ada ketidakkonsistenan dari pemerintah. Melihatnya agak miris dan sedih. Pada masa pandemi ini kan yang perlu dijaga panglimanya adalah kesehatan. Kalau minta PSBB agar orang tidak datang, kemudian orang tidak bepergian, tidak pulang kampung, tiba-tiba ada 500 TKA yang datang itu menganggu sekali rasa keadilan," ungkapnya melalui diskusi virtual, Jumat (1/5/2020).

Bahkan dia merasa heran, bila memang kedua perusahaan tambang tersebut tengah mengembangkan pembangunan teknologi nikel dan membutuhkan tenaga ahli, seharusnya cukup dengan bebera orang yang kompeten dalam bidangnya saja.

Harusnya kata dia, perusahaan membuka peluang penyerapan tenaga kerja lokal untuk mengurangi angka pengangguran selama pandemi virus corona (Covid-19) yang terus bertambah.

Baca juga: Soal 500 TKA China, Pengusaha: Melihatnya Agak Miris dan Sedih...



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.