Terdampak Covid-19, Pemerintah Diminta Perhatikan Petani Tembakau

Kompas.com - 28/05/2020, 17:31 WIB
Petani menjemur daun tembakau rajangan yang sudah diiris didepan rumahnya di Kampung Ciburuy, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (25/7/2018). Tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian utama di kasawan kaki Gunung Putri, sasaran pasar tembakau di antaranya Jawa tengah dan Jawa Timur. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGPetani menjemur daun tembakau rajangan yang sudah diiris didepan rumahnya di Kampung Ciburuy, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (25/7/2018). Tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian utama di kasawan kaki Gunung Putri, sasaran pasar tembakau di antaranya Jawa tengah dan Jawa Timur.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pagebluk virus corona (Covid-19) memengaruhi produksi dan penjualan rokok. Otomatis, jumlah pembelian tembakau di kalangan petani menurun.

Akibatnya, kesejahteraan petani tembakau pun ikut terpukul.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Nusa Tenggara Barat (NTB) Sahmihudin menyatakan, kesejahteraan petani tembakau sudah terpengaruh kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen dan harga jual eceran rokok sebesar 35 persen.

Baca juga: Mayoritas Penerimaan Cukai Masih dari Industri Hasil Tembakau

"DDiperparah oleh Covid 19 dan resesi ekonomi saat ini. Jumlah pembelian tembakau semakin menurun. Ini berakibat pada menurunnya tingkat kesejahteraan petani tembakau," kata Sahmihudin dalam keterangannya, Kamis (28/5/2020).

Menurut Sahmihudin, saat ini ada ratusan ribu tenaga kerja yang terlibat di perkebunan tembakau, ditambah ratusan ribu hingga jutaan tenaga kerja yang terlibat di sektor industri rokok dan industri pendukungnya.

Oleh sebab itu, dalam kondisi ini, pemerintah dipandang perlu pula memperhatikan para petani tembakau dan pekerja di industri rokok.

Sahmihudin menjelaskan, industri hasil tembakau selain padat karya atau menyerap tenaga kerja yang banyak, juga menyerap modal yang tinggi. Biaya yang diperlukan untuk membayar buruh tani tembakau dan pengolahannya sehingga tembakau hasil perkebunan petani tembakau dapat diserap oleh industri rokok dalam setahunnya mencapai Rp 800 miliar hingga Rp 1,2 triliun.

Baca juga: Produksi Tembakau Indonesia Cenderung Stagnan, Mengapa?

Sementara dari 110.000 ton hasil tembakau, yang terserap hanya sekitar 50.000 ton tembakau. Sisanya, diserap namun dengan harga di bawah pasar.

"Karena itu kami minta pemerintah berlaku adil. Kalau industri lainnya diperhatikan, maka industri hasil tembakau termasuk perkebunan tembakau juga mendapat perhatian pemerintah," ungkap dia.

Bentuk kehadiran pemerintah dalam mengatasi permasalahan industri hasil tembakau, imbuh Sahmihudian, antara lain tidak menaikan cukai dan harga jual eceran rokok di saat gejolak ekonomi dan wabah Covid-19.

Pemerintah pun harus menghentikan impor tembakau dari China, serta memberikan subsidi pupuk bagi perkebunan tembakau.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X