Kompas.com - 29/06/2020, 09:36 WIB
Penumpang KRL Ekonomi jurusan Serpong-Tanah turun sesampainya di Stasiun Tanah abang, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2013). 
 
KOMPAS/WISNU WIDIANTOROPenumpang KRL Ekonomi jurusan Serpong-Tanah turun sesampainya di Stasiun Tanah abang, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2013).

KRL ekonomi pengganti KRL non-AC kondisinya juga tak kalah memprihatinkan. KRL sering mogok, pintu tidak bisa ditutup, dan pengadaan suku cadang sulit sehingga harus dikanibal. Hal ini sangat membahayakan perjalanan KRL dan penumpangnya.

Dikutip dari Wartakota, penghapusan sejumlah jadwal KRL ekonomi mengundang protes dari penumpang. Bahkan, banyak penumpang kereta ekonomi yang biasa berangkat dari Stasiun Bogor mengancam mendemo PT KAI jika seluruh jadwal kereta ekonomi dihapus.

"Yang jam 08.41 sudah enggak ada, saya jadi naik yang jam 09.01. Kalau jadwal ekonomi dihapus, kami akan demo," ancam Sukesih (35), salah satu penumpang setia kereta ekonomi saat itu.

Baca juga: Jonan Pamer Baru Beli Mobil Esemka

Protes serupa juga disampaikan Anda (55), penumpang kereta ekonomi lainnya. Dia mengaku cukup untuk naik Commuter Line (CL) karena harga tiketnya mahal.

"Uang makan saya per hari cuma Rp 20.000, kalau naik Commuter Line, berarti Rp 18.000 buat berangkat dan pulang, sisa uang makan saya tinggal Rp 2.000," kata Anda yang sudah menggunakan kereta selama puluhan tahun.

Saat pagi dan sore hari, pemandangan para penumpang terlihat berebut saat naik ke dalam gerbong kereta api ekonomi sudah sangat lazim.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mereka saling berdesakan di pintu masuk kereta yang sempit. Sejumlah penumpang yang sudah berhasil masuk, langsung menggelar koran untuk alas duduk di lantai gerbong di rangkaian paling belakang yang dekat dengan ruang masinis.

Baca juga: Jonan Buka Suara Soal Langkah Erick Thohir Rombak Direksi PT KAI

"Demo demo kalau semua kereta ekonomi dihapus," teriak para penumpang kompak.

Perubahan lainnya dilakukan pada Juni 2013, saat PT KAI Commuter Jabodetabek akan memberlakukan tiket berdasarkan jumlah stasiun yang dilewati penumpang kereta rel listrik.

Simulasi yang dilakukan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) antara lain dengan menerapkan tarif termurah untuk penumpang yang menempuh maksimal lima stasiun sebesar Rp 3.000. Untuk tiga stasiun berikutnya, penumpang dikenai tambahan Rp 1.000.

Baca juga: Perjalanan Jonan, Dirut KAI yang Tidur di Gerbong, Dua Kali Jadi Menteri, Lalu Komisaris

Satu grup pengamen dengan beragam alat musik beraksi di dalam kereta api Commuter Line KRL Ekonomi dari arah Bekasi ke Manggarai, Rabu (21/3/2012).KOMPAS / LASTI KURNIA Satu grup pengamen dengan beragam alat musik beraksi di dalam kereta api Commuter Line KRL Ekonomi dari arah Bekasi ke Manggarai, Rabu (21/3/2012).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.