Dirut Bio Farma Tepis Anggapan Industri Farmasi Selalu Untung Saat Pandemi, Ini Alasannya

Kompas.com - 05/10/2020, 18:26 WIB
Suasana fasilitas produksi vaksin COVID-19,  di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (4/8/2020). Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan PT Bio Farma (Persero) telah mampu memproduksi vaksin COVID-19 dengan kapasitas 100 juta vaksin. ANTARA FOTO/DHEMAS REVIYANTOSuasana fasilitas produksi vaksin COVID-19, di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (4/8/2020). Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan PT Bio Farma (Persero) telah mampu memproduksi vaksin COVID-19 dengan kapasitas 100 juta vaksin.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir menepis anggapan bahwa industri farmasi selalu mendapatkan keuntungan dari kondisi pandemi Covid-19.

"Untuk kondisi kinerja, Covid-19 memang sangat memukul semua industri, meskipun banyak yang mengatakan industri farmasi mendapatkan salah satu benefit dari kondisi ini. Tapi, itu tidak sepenuhnya benar," ucapnya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, yang ditayangkan secara virtual, Senin (5/10/2020).

Dia mengatakan, alasan industri farmasi tidak selalu untung karena faktor bahan baku. Selama ini kata dia, industri farmasi harus mengimpor bahan baku.

Baca juga: Bio Farma Ajukan Proposal Rp 1 Triliun untuk Kembangkan Teknologi Vaksin

Meskipun permintaan masyarakat terkait produk farmasi melonjak signifikan selama pandemi, namun perusahaan farmasi terkendala dengan bahan baku produk.

"Bahan baku farmasi di Indonesia itu 90 persen kita impor. Pada saat pandemi ini karena semua negara pada rebutan bahan baku, terutama produksi terbesar China, India, mereka justru membatasi ekspor," kata dia.

Menurut Honesti, negara-negara pengekspor bahan baku farmasi justru lebih memilih memenuhi kebutuhan dalam negerinya terlebih dahulu. Hal ini mengakibatkan naiknya harga bahan baku farmasi hingga 4 kali lipat.

Akibatnya ucap dia, perusahaan farmasi harus mengorbankan sebagian asetnya untuk membeli bahan baku yang harganya berkali lipat dari harga normal sebelum pandemi.

"Karena demand begitu besar bersifat terbatas maka harga bahan baku naik berkali lipat. Harga bahan baku bisa naik 3 sampai 4 kali lipat," ujarnya.

Baca juga: Luhut Minta Bio Farma dan BPPT Segera Produksi Alat Tes Covid-19



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X