Chatib Basri: Masyarakat Kelompok Bawah Paling Banyak Belanja saat Pandemi

Kompas.com - 02/12/2020, 19:15 WIB
Pengamat ekonomi yang juga Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri saat menjadi pembicara di acara Mandiri Investment Forum di Hotel Fairmount, Jakarta, Rabu (7/2/2018). KOMPAS.com/ PRAMDIA ARHANDOPengamat ekonomi yang juga Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri saat menjadi pembicara di acara Mandiri Investment Forum di Hotel Fairmount, Jakarta, Rabu (7/2/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom sekaligus Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, pandemi Covid-19 telah mengubah pola konsumsi masyarakat. Belanja paling banyak dilakukan oleh masyarakat kelas bawah ketimbang kelas atas.

Ia menjelaskan, pada masa pandemi sebagian besar sektor ekonomi tertekan, namun yang relatif baik kondisinya adalah sektor makanan dan minuman, yang merupakan sektor esensial pemenuh kebutuhan pokok.

"Karena orang kan tidak mungkin kurangi makanan, tapi kalau yang bersifat non-esensial seperti restoran, hotel, dan transportasi itu drop signifikan," ujarnya dalam webinar mengenai perekonomian pasca Covid-19, Rabu (2/12/2020).

Baca juga: Di Jawa Tengah, 86,2 Persen Usaha Mikro Kecil Terdampak Pandemi Covid-19

Di sisi lain, porsi belanja terbesar kelompok masyarakat kelas bawah dari pendapatannya adalah makanan. Sehingga sepanjang pandemi, kelompok ini terus menggunakan dana yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan pangan.

"Kalau orang semakin kaya, maka porsi dari belanja non-esensialnya itu semakin tinggi. Tapi kalau orang semakin miskin, maka ketika punya uang dia akan belikan makanan," jelas Chatib yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama Bank Mandiri.

Sementara itu, dalam riset yang dilakukan Bank Mandiri menunjukkan bahwa dari kondisi normal atau dengan skala 100 persen, belanja masyarakat kelas bawah di saat pandemi turun menjadi 84 persen.

Angka itu lebih tinggi ketimbang belanja masyarakat kelas atas di masa pandemi, yakni dari kondisi normal turun menjadi 70 persen. Artinya penurunan belanja lebih dalam terjadi di masyarakat kelas atas.

"Yang menarik adalah yang belanja itu kelompok bawah, yang kaya itu enggak belanja, karena dia kurangi konsumsi non-esensialnya," kata dia.

Baca juga: Sri Mulyani: Pandemi Covid-19 Pukul Industri Migas

Chatib menjelaskan, belanja non-esensial masyarakat kelas atas memang cenderung bersifat tersier seperti traveling, barang mewah, bahkan properti. Di mana barang-barang tersebut tak bisa didapat dengan mengandalkan belanja online.

Oleh sebab itu, untuk mendorong pemulihan ekonomi Indonesia, pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat kelompok bawah lewat pemberian bantuan sosial (bansos), seperti berupa bantuan langsung tunai (BLT) dan program keluarga harapan (PKH).

Di sisi lain, perlu juga mendorong belanja masyarakat kelompok atas yang memang daya belinya tetap terjaga di tengah pandemi. Hal ini dapat dilakukan dengan menjamin penanganan pandemi yang baik.

"Jadi yang mesti dilakukan itu supaya kelompok yang miskin ini, yang bawah, bisa tetap belanja dengan bansos, dan meng-ecourage yang menangah atas supaya belanja," tutup Chatib.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X