KILAS

Dibanding Tahun Lalu, Ekspor Produk Jamu Indonesia Naik 14,08 Persen pada Januari-September 2020

Kompas.com - 13/12/2020, 10:17 WIB
Ilustrasi jamu Shutterstock/Wisnu Haryo YudhantoIlustrasi jamu
|

Produk jamu, suplemen kesehatan, rempah-rempah, kosmetik, spa, dan aromaterapi juga termasuk dalam kategori produk-produk yang menjadi fokus strategi peningkatan ekspor tersebut,” ujar Mendag.

Tantangan

Selain peluang, produk biofarmaka juga menghadapi beberapa tantangan, antara lain akses pasar, kontinuitas dan ketepatan pengiriman, isu lingkungan, daya saing, sertifikasi organik, serta keberlanjutan.

Kemudian, ketertelusuran, transparansi, hilirisasi, pengamanan perdagangan hambatan nontarif, biaya logistik yang tinggi, good agricultural practices (GAP), dan good manufacture practices (GMP).

Kondisi pandemi juga memberikan dampak terhadap perdagangan Indonesia termasuk produk rempah, seperti adanya peningkatan biaya logistik, perubahan pola perdagangan global, kerja sama perdagangan tidak berjalan efektif selama pandemi , dan adanya ancaman resesi ekonomi global.

Untuk menanggulangi hal tersebut, lanjut Mendag, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi, para pelaku usaha, maupun pihak swasta lainnya untuk mempertahankan dan meningkatkan ekspor Indonesia.

“Salah satunya upaya penetrasi pasar melalui penyelesaian berbagai perundingan perjanjian perdagangan dan pengembangan pasar melalui kegiatan promosi,” kata Mendag.

Pada acara webinar tersebut, Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto juga turut hadir dan memberikan sambutan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia menyampaikan, saat ini terdapat 11 ribu produk jamu, 72 obat herbal terstandardisasi, dan 24 produk fitofarmaka.

Jamu terbukti secara turun-temurun menjaga kesehatan masyarakat Indonesia. Obat herbal terstandardisasi dan produk fitofarmaka telah dibuktikan secara uji praklinis dan/atau klinis. Ketiganya merupakan produk tradisional Indonesia yang harus didukung agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan tamu istimewa di pasar global,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Kamdani mengajak pelaku usaha berinvestasi untuk pengembangan industri produk jamu dan biofarmaka.

“Industri produk herbal Indonesia diharapkan lebih maju dan bertumbuh. Peluang pasar bukan hanya ada di China, Jepang, dan Korea, tapi juga AS, Kanada, dan negara-negara di Eropa, khususnya Jerman,” jelas Shinta.

Di akhir sambutan, Mendag berharap, webinar tersebut dapat memberikan pencerahan baru untuk mengembangkan promosi produk jamu, suplemen kesehatan, rempah-rempah, kosmetik, spa, dan aromaterapi Indonesia.

“Semoga bisa meningkatkan ekspor serta memberikan manfaat bagi perekonomian Indonesia,” kata Mendag menutup sambutan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.