Rudiyanto
Direktur Panin Asset Management

Direktur Panin Asset Management salah satu perusahaan Manajer Investasi pengelola reksa dana terkemuka di Indonesia. Wakil Ketua I Perkumpulan Wakil Manajer Investasi Indonesia periode 2019 - 2022. Penulis buku best seller reksa dana yang diterbitkan Gramedia Elexmedia. Buku Terbaru berjudul "Reksa Dana, Pahami, Nikmati!"

Persiapan Menjadi Investor Reksa Dana 2021

Kompas.com - 08/01/2021, 10:30 WIB
Ilustrasi investasi (Dok. Shutterstock/hywards) Ilustrasi investasi

Dengan kondisi yang ada, maka return daripada reksa dana pasar uang di tahun 2021 diperkirakan akan berkisar antara 3,5 – 4,5 persen. Akan sangat sulit untuk mengulang kinerja pada tahun 2020 mengingat bunga deposito perbankan juga sudah turun cukup besar.

Obligasi – Reksa Dana Pendapatan Tetap

Obligasi, terutama yang diterbitkan oleh pemerintah mengalami kenaikan harga yang relatif tinggi di tahun 2020. Karena obligasi (terutama yang diterbitkan pemerintah) harganya bergerak sesuai teori, jika suku bunga turun harga obligasi naik dan jika suku bunga naik maka harga obligasi turun.

Sebagai informasi tahun 2020, BI Rate turun dari 5 persen di awal tahun menjadi 3,75 persen di akhir tahun.

Penurunan dari 1,25 persen ini kurang lebih setara dengan kenaikan 6–8 persen pada harga obligasi pemerintah. Ditambah dengan kupon yang diterima, maka menghasilkan return reksa dana pendapatan tetap sekitar 9 persen. Ada yang lebih rendah, ada pula yang di atas 10 persen.

Untuk tahun 2021, suku bunga walaupun turun, mungkin hanya bisa 1 kali lagi dari 3,75 persen ke 3,50 persen atau turun 0,25 persen. Untuk itu, akan sulit untuk mengharapkan adanya kenaikan harga obligasi yang signifikan pada tahun ini.

Kemudian dari sisi perpajakan, pada tahun 2020, atas kupon dan diskonto (capital gain) obligasi yang diterima reksa dana dikenakan pajak 5 persen, maka pada tahun 2021 dan seterusnya dikenakan pajak 10 persen. Angka ini masih lebih rendah dari investor perorangan dan institusi (non bank) yang dikenakan pajak 15 persen.

Untuk memaksimalkan return, terkadang Manajer Investasi juga menginvestasikan sebagian dananya pada obligasi korporasi. Secara tarif pajak sama, namun obligasi korporasi memiliki jangka waktu jatuh tempo yang lebih pendek (3 – 5 tahun vs pemerintah bisa sampai 30 tahun) dan tingkat kupon yang lebih tinggi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Karena kebutuhan dana, masih ada obligasi yang besaran kuponnya di atas 8 persen. Namun disesuaikan dengan rating dan risiko. Semakin tinggi risiko, maka semakin besar pula kupon yang diberikan.

Baca juga: Mau Sukses Investasi di Tahun Kerbau Logam? 5 Hal Ini Perlu Diperhatikan

Jika risiko terbesar dari obligasi pemerintah adalah penurunan harga, maka risiko terbesar dari obligasi korporasi adalah gagal bayar dan kurangnya likuiditas. Untuk itu bobot obligasi korporasi biasanya disesuaikan dengan profil reksa dana pendapatan tetap.

Dengan tarif pajak yang lebih tinggi dari 5 persen menjadi 10 persen, potensi kenaikan harga yang terbatas karena ruang penurunan suku bunga diperkirakan tinggal 1 kali, dan kombinasi dengan obligasi korporasi, return reksa dana pendapatan tetap diperkirakan akan berkisar antara 5–8 persen.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.