Wonder Woman, WhatsApp, dan Koperasi

Kompas.com - 13/01/2021, 16:37 WIB
Karakter Maxwell Lord (tengah) yang diperankan aktor Pedro Pascal dalam film Wonder Woman 1984. IMDbKarakter Maxwell Lord (tengah) yang diperankan aktor Pedro Pascal dalam film Wonder Woman 1984.

Mari bayangkan data tiap individu sebagai aset. Masing-masing orang memiliki asetnya. Sayangnya untuk mengelola data yang banyak itu butuh modal tak sedikit. Juga secara statistik, hanya data dalam volume tertentu yang bisa diolah menjadi sesuatu. Jadi nampaknya kita perlu membangun platform gotong royong data, tak bisa sendirian.

Budiman Sujatmiko, Ketua Inovator 4.0 Indonesia, beberapa waktu terakhir getol bicara isu ini. Ia sebut sebagai trilogi kemandirian: berdata, berdaya, berdana. Itu sebabnya dia mulai membangun beberapa koperasi. Tujuan besarnya untuk membangun konsorsium data, di mana tiap individu dapat patungan data. Dalam pandangannya, data merupakan bagian dari Aset Asasi Universal (AAU) yang saban orang harus berdaulat dan kendalikan.

Itu langkah konkret yang bisa ditiru. Kita harus menawarkan proposal kepada masyarakat bagaimana mengonversi data mereka menjadi sumber daya. Dari yang potensial, menjadi aktual. Dari yang per individu, menjadi kelompok, komunitas, kolektif. Hanya dengan berkelompok, jumlah banyak, data itu bisa bernilai.

Saya pernah menulis soal perlunya kita membangun Koperasi Big Data. Tujuannya sama, agar kita memiliki kedaulatan atas data. Juga bagaimana membaca data sebagai "data as labor", yang mana kita harus memperoleh value terhadap setiap pengelolaan dan penggunaannya.
Fenomena Whatsapp menjadi momen berharga, bahwa masyarakat mulai sadar perihal datanya. Bila Whatsapp begitu, maka kita pindah ke yang lain. Signal dan Telegram dikabarkan kewalahan karena migrasi besar-besaran pengguna Whatsapp.

Baca juga: Tak Bisa Tunggu Bill Gates Bikin Koperasi Big Data

Demokratisasi messenger

Namun itu belum cukup. Migrasi hanyalah cara sementara, sangat mungkin Signal atau Telegram berubah pikiran. Jadi kita perlu membangun sebuah platform messenger mandiri, yang dimiliki oleh setiap penggunanya. Gagasannya sederhana, membangun koperasi messenger.

Orang sebut istilahnya sebagai platform cooperative. Yaitu platform atau perusahaan aplikasi yang dimiliki oleh penggunanya. Bila para pengguna ikut memiliki, lantas bagaimana nasib para founder serta jenius kreatif itu? Bukankah akan terjadi diktator mayoritas terhadap mereka?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Model kelembagaannya dibuat multi pihak (multi stakeholder cooperative). Founder serta para jenius kreatif, pencipta, berdiri sebagai satu pihak. Lalu engineer yang bekerja di dalamnya, satu pihak. Kemudian pengguna yang jumlahnya jutaan orang juga satu pihak. Bila mau diikutsertakan, investor juga berdiri sebagai pihak yang berbeda.

Sedikitnya ada empat pihak yang bisa dikolaborasi dalam koperasi messenger itu. Dalam mengambil keputusan mekanismenya proportional voting, bukan one man, one vote. Secara alamiah masing-masing pihak akan mengagregasi kepentingannya.

Di sinilah check and balance sebagai pilar dasar demokrasi bekerja. Saya pernah menulis khusus soal ini pada kolom sebelumnya "Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak".

Dengan cara begitu, Bung Besar, bisa "dibunuh". Hasrat untuk menguasai, mengeksploitasi dan memonopoli bisa dianulir. Caranya, demokratiskan aplikasi messenger. Sebaliknya, di mana messenger masih dimiliki oleh korporasi swasta dan perseorangan, Bung Besar bisa sewaktu-waktu bangkit.

Baca juga: Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.