Apa Kabar Kelanjutan Proyek Smelter Freeport dan Raksasa Baja China?

Kompas.com - 06/02/2021, 06:14 WIB
Aktivitas pekerja di smelter PT Vale di Sorowako, Sulawesi Selatan. Gambar diambil pada 30 Maret 2019. AFP/BANNU MAZANDRAAktivitas pekerja di smelter PT Vale di Sorowako, Sulawesi Selatan. Gambar diambil pada 30 Maret 2019.

JAKARTA, KOMPAS.com - Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Maritim dan Investasi, Septian Hario Seto, mengungkapkan rencana pembangunan smelter tembaga kerja sama PT Freeport Indonesia (PTFI) dan perusahaan asal China Tsingshan Steel akan dipastikan pada akhir Maret mendatang.

"Soal rencana pembangunan smelter copper (tembaga) di Weda Bay, kerja sama antara Freeport dan Tsingshan, prosesnya sedang berjalan negosiasinya. Targetnya memang akhir bulan Maret sudah conclude (diputuskan)," kata Seto dilansir dari Antara, Sabtu (6/2/2021).

Seto menjelaskan proyek smelter tembaga berkapasitas 2,5 juta ton input konsentrat itu akan jadi kerja sama yang atraktif bagi Freeport.

Pasalnya, sebagian besar investasinya akan ditanggung oleh Tsingshan. Freeport disebutnya hanya perlu memberikan pendanaan sekitar 7,5 persen dari total investasi sekitar 2,5 miliar dolar AS.

Baca juga: Terimbas Pandemi, Bagaimana kelanjutan Proyek Smelter Freeport?

"Ini yang menarik buat Freeport karena selama ini mereka mengatakan bahwa smelter copper tidak profitable, capex-nya mahal. Nah ini Tsingshan memiliki teknologi yang bisa menekan angka capex-nya, dan mereka berani memberikan pendanaan capex maksimal," urai Seto.

Seto menilai rencana kerja sama tersebut juga atraktif bagi Freeport karena perusahaan tambang asal AS itu tidak perlu membiayai secara penuh pembangunan smelter, seperti yang dilakukan di Gresik, Jawa Timur.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kendati demikian, pemerintah tetap meminta komitmen Freeport untuk bisa menyelesaikan pembangunan smelter di Gresik.

"Mereka (Freeport) harus kasih semacam keyakinan ke pemerintah kalau mereka comply (patuh). Tapi kalau saya lihat track record-nya sejauh ini mereka komitmen dari sisi timeline dan cost," ujar dia.

Baca juga: Pendiri dan Mantan Bos Besar Freeport Jim Bob Moffett Meninggal Dunia

Di sisi lain, Seto menjelaskan pembangunan smelter tembaga menjadi upaya strategis bagi Indonesia untuk bisa mendorong hilirisasi mineral.

Tembaga sendiri menjadi satu dari komoditas utama Indonesia yang bernilai strategis di masa depan, khususnya dalam pengembangan energi baru terbarukan selain nikel dan bauksit.

Halaman:


Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X