Bisnis Wine Australia Hancur akibat Ketegangan Diplomatik dengan China

Kompas.com - 17/02/2021, 17:56 WIB
Ilustrasi wine Thinkstockphotos.comIlustrasi wine

KOMPAS.com - Bisnis anggur atau wine Australia Selatan porak poranda setelah para produsen tidak bisa melakukan ekspor produknya itu ke China. 

Mengutip CNN Money, Rabu (17/2/2021), hancurnya bisnis produsen anggur Australia tersebut berkaitan dengan ketegangan diplomatik antara negeri Kanguru itu dengan China.

Pada November lalu, Beijing menaikkan tarif masuk untuk anggur dari Australia sebagai bagian dari penyelidikan anti-dumping serta merespons keluhan dari produsen anggur China.

Salah satu produsen anggur dari Australia Selatan yang bisnisnya hampir tumbang adalah Jarrad White.

Baca juga: PT Bio Farma Disuntik Dana Rp 2 Triliun dari Bank Danamon untuk Pengadaan Vaksin Covid-19

 

Produsen tersebut sebenarnya  telah menghabiskan hampir satu dekade untuk membangun bisnisnya di Cina. Dengan jaringan tersebut, Jarrad White mampu meraup pasar secara pesat di negara Tirai Bambu itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada pertengahan 2020, lebih dari 96 persen anggur produksinya dijual ke konsumen di China, dan dalam setahun bisa mencapai 7 juta botol.

Namun dalam hitungan bulan, semuanya berantakan setelah Pemerintah China menerapkan kenaikan tarif untuk anggur dari Australia.

Saat ini, ratusan ribu botol anggur merek Jarressa Estate yang ditumpuk di sebuah gudang yang ada di Adelaide, ibu kota Australia Selatan.

"Ini sangat merugikan kami. Kami memiliki banyak persediaan yang harus dibayar dan semua pesanan yang direncanakan untuk dialihkan, jadi itu membuat kami dalam situasi yang canggung," kata manajemen White.

Jarrad White tidak sendiri. Ratusan produsen anggur Australia yang telah berinvestasi besar-besaran untuk pasar yang tengah booming di China, sekarang menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Baca juga: Di Tengah Pandemi Covid-19. Industri Kosmetik Mampu Tumbuh Signifikan

Nilai ekspor anggur ke China turun hampir nol pada bulan Desember, menurut statistik dari kelompok industri Wine Australia. Nilai total anggur yang diekspor ke China untuk seluruh tahun 2020 turun 14 persen menjadi sekitar 1 miliar dollar Australia sekitar Rp 10 triliun.

China mempertahankan langkah-langkah yang diperlukan untuk menghentikan impor anggur murah agar tidak menekan pasar lokal. Tetapi industri anggur Australia percaya itu lebih berkaitan dengan ketegangan yang memburuk antara kedua negara.

Ini bukan hanya anggur. Ketika hubungan antara Canberra dan Beijing meningkat, banyak ekspor Australia, termasuk daging sapi dan kayu, mulai menghadapi hambatan untuk memasuki pasar Tiongkok. Namun demikian, pengusaha Australia optimistis bahwa kondisi akan membaik dalam waktu dekat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber CNN Money
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.