Kompas.com - 25/03/2021, 14:41 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018).
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Para investor pemula perlu mempersiapkan diri saat memutuskan untuk berinvestasi saham. Sebab harga saham bisa melonjak dengan cepat, tetapi bisa juga anjlok dengan cepat.

Technical Analyst Mandiri Sekuritas Hadiyansyah menjelaskan, menghadapi kondisi pasar yang sedang bearish (turun), ada baiknya jika investor pemula mempersiapkan diri dengan mengoleksi saham-saham yang fundamentalnya baik.

“Untuk pemula sebaiknya memilih saham-saham LQ45 atau blue chip, jangan pilih saham yang kapitalisasinya kecil,” kata Hadi dalam virtual konferensi, Kamis (25/3/2021).

Menurut Hadi, saat ini kebanyakan pemain saham pemula ikut-ikutan dalam membeli saham. Apalagi setelah melihat kenaikan harga saham yang cukup tinggi. Padahal, saham-saham LQ45 memiliki peluang bullish dan mengikuti kondisi pasar.

“Kebanyakan investor pemula melihat saham naik tinggi ikutan beli. Membeli LQ45, kalaupun salah pilih saham dan enggak mau cut loss, saham LQ45 akan naik lagi kok cuma rugi waktu. Kedua, tetap harus lihat trennya. Tren besar IHSG seperti apa? kalau lagi bearish tunggu dulu, ketika bullish baru masuk,” kata dia.

Baca juga: Wanita Ini Temukan Mutiara Oranye Bernilai Miliaran Rupiah di Makan Siangnya

Hadi bilang, kebanyakan investor yang mmemulai investasi tahun 2020 mendapatkan untung. Tapi ada juga yang mengalami rugi karena tidak tahu kapan harus jual lagi. Tidak sedikit investor pemula ini membeli saham hanya berdasarkan ikut-ikutan atau secara kebetulan saja.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Makanya untuk pemula ini saya sarankan untuk belajar baik fundamental maupun teknikal. Masih banyak investor pemula yang mengira beli saham itu akan selalu mendapatkan untung, padahal membeli saham juga ada risiko kerugian,” ucapnya.

Hadi menyarankan, ketika investor akan memilih saham, sebaiknya menggunakan analisis fundamental. Sedangkan untuk menentukan timing jual belinya menggunakan analisa teknikal.

Menurut Hadi, di tahun 2021, kemungkinan besar IHSG akan relatif bergerak sideways. Sementara untuk beberapa bulan ke depan, IHSG akan menguji level 6.000.

Ia mengatakan, bila IHSG tidak bisa kembali ke level 6.200 pada akhir Maret 2021, maka kemungkinan IHSG akan sideways dalam beberapa bulan ke depan.

Baca juga: 16 Juta Dosis Vaksin Sinovac Datang Lagi, Sri Mulyani: Menambah Confidence Jumlah Vaksinasi di Berbagai Daerah

Sementara itu, di pertengahan tahun IHSG akan sedikit turun, dan jelang akhir tahun akan ada kenaikan lagi dipicu sentimen window dressing.

“Sepanjang tahun ini, trading race sideways diperkirakan antara 5.500-6.500. Tapi ini tetap bisa berubah dalam perjalannya karena teknikal cenderung akan berubah mengikuti trennya,” kata dia.

Di sisi lain secara jangka panjang, Hadi menilai tren IHSG masih akan tumbuh dalam beberapa tahun maupun dekade seiring dengan pertumbuhan ekonomi.

Adapun sektor yang bisa menjadi pilihan tetap adalah sektor perbankan. Dia bilang, sektor perbankan memiliki bobot hampir 40 persen untuk IHSG. Sementara untuk metal, mining, dan pertambangan semuanya sudah mulai berbalik arah turun.

Baca juga: Mengenal Analisis Teknikal, Cara Kerjanya, dan Manfaatnya Bagi Pemain Saham Baru



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X