Kompas.com - 15/04/2021, 16:57 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis (15/4/2021) sore, berakhir di zona hijau dalam perdagangan yang fluktuatif.

Indeks acuan BEI ini sempat terbenam di zona merah selama perdagangan sesi II. Namun beberapa saat sebelum penutupan, berhasil bangkit dan kembali ke zona hijau. IHSG ditutup menguat 0,48 persen atau 29,2 poin pada 6.079,50.

Dikutip dari data RTI, nilai total transaksi hari ini mencapai Rp 10,18 triliun dari 15,49 lembar saham yang diperjualbelikan.

Baca juga: Hari Ini IHSG Unjuk Gigi Menguat, Rupiah Kembali Melorot

Terdapat 231 saham menguat, 252 saham melemah, serta 162 saham stagnan. Sedangkan, aksi beli oleh investor asing (net foreign buy) mencapai Rp 291,42 miliar.

Sementara, indeks LQ 45 menguat 0,39 persen ke level 908,43. Kemudian, indeks KOMPAS100 naik 0,23 persen ke level 1.157, dan Jakarta Islamic Index (JII) bertambah 0,41 persen ke level 599,42.

Adapun saham yang menjadi penopang indeks hari ini antara lain,  PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) naik 8,39 persen menjadi Rp 7.750, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) naik 4,84 persen menjadi Rp 2.600, dan  PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) naik 3,17 persen menjadi Rp 2.220,

Sementara saham-saham yang memberati indeks di antaranya, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 2,71 persen ke level Rp 4.310, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) turun 2,62 persen menjadi Rp 2.600, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) turun 2,47 persen menjadi Rp 21.700.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot hari ini masih tertekan.

Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp 14.615 per dollar AS, melemah 0,09 persen dibanding penutupan kemarin pada 14.603.

Baca juga: RI Catat Ekspor Tertinggi Sejak 2011, Akibat Depresiasi Rupiah?

Disclaimer: Artikel ini bukan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Segala rekomendasi dan analisa saham berasal dari analis dari sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan Investor. Pelajari dengan teliti sebelum membeli/menjual saham.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X