Wamen BUMN: Penyakit Masa Lalu Garuda Indonesia, Sewa Banyak Pesawat dan Mahal

Kompas.com - 09/06/2021, 06:35 WIB
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo KOMPAS.com/ PRAMDIA ARHANDO JULIANTOWakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah berupaya menyelesaikan persoalan krisis finansial di PT Garuda Indonesia Tbk (Persero). Maskapai pelat merah ini diketahui memiliki utang mencapai Rp 70 triliun.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, salah satu permasalahan mendasar pada maskapai ini adalah terlalu banyak menyewa pesawat dengan harga yang mahal. Ia bilang, "penyakit" Garuda Indonesia di masa lalu ini menimbulkan permasalahan jangka panjang.

"Memang jenis pesawat yang di sewa di masa lalu itu terlalu banyak dan sewanya kemahalan. Ini tentunya penyakit masa lalu Garuda, di mana cost structure-nya (struktur biaya) jauh melebihi dari maskapai-maskapai sejenis," ungkapnya dalam acara Business Talk Kompas TV, Selasa (8/6/2021).

Baca juga: Deretan Sentimen Positif Bitcoin dalam Konferensi Miami

Pria yang akrab disapa Tiko itu mengatakan, persoalan penyewaan pesawat yang membebani kinerja perusahaan ini, semakin diperparah ketika pandemi Covid-19. Pandemi yang sudah berlangsung lebih dari setahun membuat penerbangan penumpang anjlok, sehingga semakin membawa Garuda Indonesia ke kondisi krisis keuangan.

Penundaan pembayaran kewajiban pun sudah berlangsung sepanjang masa pandemi ini, baik ke pihak swasta terutama perusahaan penyewa pesawat atau lessor, maupun ke BUMN lainnya seperti Angkasa Pura dan Pertamina.

"Tentunya dengan kondisi Covid-19, pendapatan (Garuda Indonesia) menurun dan kondisi ini sudah berjalan setahun lebih. Oleh karena itu, memang selama ini yang dilakukan adalah penundaan pembayaran. Jadi sebenarnya, kalau kami mau jujur, dari dulu sudah banyak yang enggak dibayar kewajibannya," imbuh dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Beberapa waktu belakangan kondisi Garuda Indonesia memang semakin memburuk, lantaran lessor yang ditunda pembayarannya akhirnya menarik pesawat. Sehingga tak aneh jika sempat beredar di media sosial tentang perubahan call sign di pesawat Garuda Indonesia dari PK (Indonesia) menjadi VQ (Bermuda).

Ia mengungkapkan, saat ini memang sudah banyak pesawat Garuda Indonesia yang di grounded oleh para lessor dan tidak bisa lagi di pakai. Sehingga saat ini maskapai pelat merah tersebut beroperasi dengan jumlah pesawat yang minimum.

Baca juga: Krisis Keuangan, Garuda Indonesia Kembalikan 2 Pesawat ke Lessor

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.