Teten Masduki Ungkap 3 Strategi Utama Dorong Ekspor UMKM

Kompas.com - 16/06/2021, 14:36 WIB
Menkop Teten Masduki DOKUMENTASI HUMAS KEMENKOP UKMMenkop Teten Masduki

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki terus berupaya dorong ekspor UMKM.

Hal ini mengingat kontribusi ekspor UMKM masih tergolong rendah, yaitu 14 persen, dibanding beberapa negara lainnya seperti Singapura 41 persen, Thailand 29 persen, dan China yang mencapai 60 persen.

Menurut Teten, ada 3 strategi utama yang bisa dilakukan untuk untuk meningkatkan ekspor UMKM.

 

Baca juga: Supaya Ekonomi Pulih, Bank Diminta Perbesar Porsi Kredit UMKM

Pertama, penguatan database, pemetaan potensi produk maupun pasar melalui Basis Data Tunggal UMKM, preferensi pasar di negara tujuan, jaringan distribusi dan gudang di luar negeri, serta affirmative-action penurunan tarif di negara tujuan dan memperluas kerja sama dagang luar negeri.

"Butuh peran aktif Kemenlu, KBI/KJRI, Atase Perdagangan dan ITPC, BKPM, serta beberapa inkubasi ekspor swasta yang sudah kuat," kata Teten dalam siaran pers, Rabu (16/6/2021).

Kedua, peningkatan ekspor UMKM juga bisa melalui peningkatan kualitas SDM dan produk melalui program pendidikan dan pelatihan, sekolah ekspor yang ditargetkan melahirkan 500.000 eksportir, standardisasi dan sertifikasi, serta factory sharing.

Pihaknya juga sudah memberikan kemudahan untuk pendaftaran sertifikasi ISO, HACCP, SNI, Organik, FSSC/BRC, dan SVLK.

Bersama Bappenas, tahun ini KemenKopUKM juga akan melakukan pilot project factory sharing di lima provinsi.

Baca juga: Menteri Investasi Akui Keberpihakan Pemerintah ke UMKM Belum Maksimal

Kelima provinsi tersebut untuk komoditas rotan (Jateng), untuk komoditas kelapa (Sulut), untuk komoditas sapi (NTT), untuk komoditas nilam (Aceh), dan untuk komoditas biofarmaka (Kaltim).

Terakhir, strategi yang dilakukan untuk meningkatkan ekspor adalah memberi kemudahan dalam akses pembiayaan.

Teten bilang, skema pembiayaan UKM untuk ekspor terus dipermudah di antaranya melalui kerja sama dengan beberapa sumber pembiayaan ekspor seperti LPEI/KURBE, LPDB-KUMKM, perbankan/himbara, dan skema alternatif lainnya seperti crowd funding, modal ventura, dan CSR.

"Skema KUR sebagaimana arahan Presiden terbaru dapat dimanfaatkan: plafon KUR dari sebelumnya maksimum Rp500 juta naik menjadi Rp20 miliar. Dan, KUR tanpa agunan naik dari Rp50 juta menjadi Rp100 juta," kata Teten.

“Digitalisasi harus mampu meningkatkan ekspor produk UMKM ke pasar dunia. Pada tahun 2024, Pemerintah menargetkan kontribusi ekspor UMKM akan meningkat menjadi 21,6 persen," imbuh dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.