Nasabah Khawatirkan Penahanan Dirut IndoSterling bakal Hambat Restrukturisasi

Kompas.com - 08/07/2021, 13:11 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com – Proses retrukturisasi High Yield Promissory Notes (HYPN) PT IndoSterling Optima Investa (IOI) terus bergulir. Hal ini sejalan dengan putusan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Terkait dengan berjalannya restrukturisasi, sejumlah kreditur menyatakan senang karena IndoSterling memiliki itikad baik menyelesaikan kewajibannya.

Salah satu kreditur, Ifan Prajogo mengatakan, dirinya beserta sebagian besar kreditur lainnya sudah menerima pembayaran cicilan pertama sejak 1 Desember 2020 atau lebih cepat dari yang seharusnya 1 Maret 2021.

Baca juga: IndoSterling Optima Tetap Lakukan Pembayaran Utang Pada Kreditur

“Ini langkah yang kami apresiasi. Kami melihat itikad baik manajemen dalam proses ini,” katanya dalam penjelasan resminya, Kamis (8/7/2021).

Ifan mengakui, dalam pembayaran cicilan utang ke-8 pada 1 Juli lalu, nilai pembayarannya memang belum 100 persen. Hal ini disebabkan oleh proses hukum yang sedang dijalani oleh William Henley selaku Direktur Utama PT IOI.

“Sejauh ini, kami yakin Pak William Henley tidak akan lepas tangan,” ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Proses Pidana akan Hambat Restrukturisasi

Sebagai kreditur, Ifan menilai bahwa proses pidana terhadap William Henley tidaklah tepat. Sebab, sejak awal, skema yang digunakan adalah perjanjian utang piutang. Karena itu, jika ada hambatan dalam proses pembayaran, maka skema yang dijalankan adalah PKPU, bukan pidana.

Sementara itu kreditur lainnya Alice Mulyadi menambahkan, dirinya beserta ribuan kreditur lainnya khawatir jika proses pidana terhadap manajemen justru akan mengganggu proses restrukturisasi sebagaimana putusan PKPU.

Baca juga: BRI dan BNI Setujui Restrukturisasi Utang Jangka Pendek Garuda Indonesia

 

“Meskipun jumlah pembayaran cicilannya tidak besar, tapi kami menghargai komitmen manajemen untuk menyelesaikan ini dengan baik,” katanya.

Menurut Alice, yang diharapkan dari kreditur adalah pembayaran cicilan lancar, sehingga uang yang mereka pinjamkan ke PT IOI melalui perjanjian utang piutang bisa dikembalikan.

“Kami kecewa dengan tindakan sebagian kecil kreditur yang menempuh jalur pidana, karena justru akan mengganggu proses pembayaran cicilan kepada mayoritas kreditur,” ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.