OJK Luncurkan Blueprint Transformasi Digital Perbankan, Ini Poin-poin Pentingnya

Kompas.com - 26/10/2021, 13:38 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menerbitkan Cetak Biru Transformasi Digital Perbankan. Cetak biru atau blueprint itu diluncurkan sebagai pedoman industri perbankan dalam menghadapi percepatan transformasi digital yang tengah terjadi.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I OJK Teguh Supangkat mengatakan, Indonesia telah memasuki era industri 4.0. Era ini memaksa seluruh industri untuk mengkaji ulang model bisnis tradisional dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

"Proses digitalisasi terjadi semakin masif selama pandemi," kata dia, dalam peluncuran secara virtual, Selasa (26/10/2021).

Baca juga: Aktivasi Digital Perbankan, Solusi Bertransaksi saat WFH

Pada industri perbankan, percepatan digitalisasi terlihat dari terus menurunnya jumlah kantor cabang, pesatnya pertumbuhan transaksi mobile dan internet banking, terus naiknya transaksi uang elektronik, hingga penambahan jumlah dana pihak ketiga (DPK) dari layanan perbankan elektronik dan layanan perbankan digital.

"Tren digitalisasi perbankan turut didukung oleh besarnya digital opportunity yang dimiliki Indonesia. Pada 2025, Indonesia berpotensi memiliki pasar ecommerce dengan pertumbuhan tertinggi di kawasan ASEAN yakni sebesar 124 miliar dollar AS," tutur Teguh.

Oleh karenanya guna memfasilitasi fenomen transformasi digital perbankan itu, OJK menerbitkan Cetak Biru Transformasi Digital Perbankan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Peluncuran Cetak Biru ini merupakan gambaran yang lebih konkret atas berbagai inisiatif dan komitmen OJK dalam mendorong akselerasi transformasi digital pada perbankan," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Kristiyana.

Heru menjelaskan, cetak biru itu berfokus pada lima elemen pengembangan digitalisasi perbankan. Pertama data yang mencakup perlindungan data, transfer data, dan tata kelola data.

Kemudian, teknologi yang mencakup tata kelola teknologi informasi, arsitektur teknologi informasi, dan prinsip adopsi teknologi informasi. Ketiga, manajemen risiko teknologi informasi yang mencakup pula keamanan siber bank umum dan alih daya (outsourcing).

Lalu, kolaborasi yang mencakup platform sharing, kerja sama bank dalam ekosistem digital. Terakhir, tatanan institusi yang mencakup dukungan pendanaan, kepemimpinan, desain organisasi, talenta sumber daya manusia, dan budaya.

"Kelima elemen tersebut merupakan langkah strategis untuk mendorong perbankan dalam menciptakan inovasi produk dan layanan keuangan yang dapat memenuhi ekspektasi konsumen dan berorientasi pada konsumen," ucap Heru.

Baca juga: Transaksi Digital Banking Diprediksi Capai Rp 35.600 Triliun pada 2021

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.