Imbas Kejahatan Cyber, Bank-bank Dunia Merugi Rp 1.420 Triliun Per Tahun

Kompas.com - 26/10/2021, 17:38 WIB
Ilustrasi Cyber Crime ShutterstockIlustrasi Cyber Crime

JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, risiko keamanan siber atau cyber security menjadi salah satu tantangan yang perlu dihadapi sektor jasa keuangan, khususnya perbankan dalam fenomena percepatan transformasi digital yang tengah terjadi.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I OJK Teguh Supangkat mengatakan, sektor jasa keuangan menghadapi eksposur yang signifikan terhadap risiko siber.

Ini tecermin dari jumlah insiden dan serangan siber yang terjadi di sektor perbankan setiap tahunnya di seluruh belahan dunia.

Baca juga: Sri Mulyani Sebut Bank Dunia Bakal Kucurkan Rp 2.240 Triliun ke 100 Negara, untuk Apa?

Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mengenai estimasi risiko siber di sektor finansial, estimasi total kerugian rata-rata tahunan yang dialami sektor jasa perbankan secara global yang disebabkan oleh serangan siber adalah mencapai 100 miliar dollar AS atau setara Rp 1.420 triliun (asumsi kurs Rp 14.200 per dollar AS).

"Selama beberapa tahun terakhir, risiko dari ancaman dan insiden siber telah muncul sebagai isu yang berkembang di sektor perbankan," kata Teguh secara virtual, Selasa (26/10/2021).

Lebih lanjut Teguh menyebutkan, di Indonesia sendiri, kerugian riil bank-bank umum akibat kejahatan siber mencapai Rp 246,5 miliar pada periode semester I-2020 hingga semester I-2021.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Adapun potensi kerugian lain akibat kejahatan siber mencapai Rp 208,4 miliar.

Baca juga: OJK Catat Hampir 2.600 Kantor Cabang Bank Telah Ditutup

Sementara itu, mengacu pada data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), jumlah serangan siber yang terjadi sepanjang bulan Januari hingga Juli 2021 mencapai 741,4 juta serangan.

Sektor keuangan menempati posisi kedua sebagai target serangan siber setelah sektor pemerintahan, terutama dalam bentuk malware.

Potensi risiko dan serangan siber akan semakin meningkat seiring dengan pesatnya peningkatan penyediaan layanan perbankan secara digital.

"Oleh karena itu, upaya transformasi digital perlu diimbangi dengan manajemen risiko yang memadai, termasuk dalam mengelola keamanan siber," ucap Teguh.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.