Pelaku UMKM Perlu Tahu, Ini Bedanya Dagang dan Bisnis

Kompas.com - 28/10/2021, 19:16 WIB
Ilustrasi UMKM yang beradaptasi di era digital, ilustrasi bisnis online. ShutterstockIlustrasi UMKM yang beradaptasi di era digital, ilustrasi bisnis online.

JAKARTA, KOMPAS.com - Para pelaku UMKM, tahukah ada perbedaan antara dagang dan bisnis? Keduanya memang sama-sama melakukan kegiatan menjual barang atau jasa, tapi ternyata memiliki sistem pengelolaan yang berbeda.

Hal tersebut diungkapkan oleh Lead Financial Trainer QM Financial Ligwina Hananto dalam diskusi virtual Modalku, Kamis (28/10/2021).

"Semua bisnis itu dimulai dari dagang, dan enggak hina mulai dari dagang, tapi ternyata ada perbedaannya," ujar Ligwina.

Baca juga: Tumbuh 37 Persen, Laba Bersih BSI Tembus Rp 2,26 Triliun

Ia menjelaskan, perbedaan utama dari berdagang dan berbisnis adalah laporan keuangan. Dalam hal dagang, pelaku usaha tak memiliki laporan laba-rugi yang jelas, atau biasanya hanya sekadar memiliki catatan keluar-masuk uang tanpa memperhitungkan secara rinci.

"Misal orang dagang, ambil barang yang harganya Rp 10.000 kemudian dijual jadi Rp 30.000, berarti untung Rp 20.000, selesai. Keuntungannya itu misal langsung dipakai untuk jajan sama anak," jelas dia.

"Tapi kalau bisnis itu beda, misal ambil barang Rp 10.000 dijual Rp 30.000, maka yang Rp 20.000 itu belum jadi profit (keuntungan), tapi baru jadi margin (selisih). Sebab setelah itu ada biaya-biaya lain yang perlu dikurangi, barulah menjadi laba atau rugi," lanjut Ligwina.

Menurutnya, biaya-biaya lain yang perlu juga diperhitungkan, diantaranya seperti biaya marketing, biaya membayar gaji karyawan, hingga biaya menyewa tempat. Setelah turut memperhitungkan biaya tersebut, maka barulah diketahui penjualan itu menghasilkan laba atau malah rugi.

Oleh sebab itu, penting untuk para pelaku UMKM memiliki laporan keuangan yang baik dan benar, sehingga bisa mengetahui laba atau rugi dari bisnis yang dijalani.

"Ini perbedaannya antara dagang dan bisnis. Apakah salah mau dagang saja? Enggak. Tapi kita perlu menentukan dulu, sebagai pemilik usaha, mau jadi pedagang saja atau mau berevolusi jadi pemilik bisnis," ungkapnya.

Ligwina bilang, dirinya banyak belajar salah satunya tentang mengerjakan bisnis dengan nilai kecil maupun besar sama-sama menghasilkan rasa capek yang sama. Untuk itu, ia menilai, jangan terus bertahan dengan usaha kecil, namun dorong hingga menjadi bisnis besar.

Baca juga: Kisah 3 Sosok Pemuda Indonesia, Mengawali Bisnis dari Kegemaran hingga Go Internasional

Langkah untuk bisa berevolusi dari dagang ke bisnis, kata Ligwina, bisa dilakukan dengan memiliki pemikiran yang tepat sebagai pemimpin atau chief executive officer (CEO), bukan sebagai chief everything officer.

Ia bilang, salah satu yang menjadi kesalahan bagi orang-orang berbisnis adalah mengerjakan seluruhnya sendirian. Mulai dari produksi, pengemasan, pemasaran, bahkan hingga pencatatan keuangan.

Hal itu tentu akan sangat melelahkan dan merepotkan. Oleh karena itu, bila hasil dari dagang sudah mencukupi menambah pekerja, maka tambahlah setidaknya mulai dari satu pekerja sehingga bisa membagi beban pekerjaan.

Dengan demikian, secara perlahan seiring dengan semakin berkembangnya usaha, bisa menambah beberapa pekerja lainnya untuk mengurusi setiap bidang, mulai dari produksi, pemasaran, hingga ekspansi bisnis.

"Misalkan jual donat, kalau dia mau bisnis, maka dia sudah pikirkan produksinya seperti apa, bahannya bagaimana, nanti resepnya apa. Tapi nanti goreng, packaging, cari pembeli, pengiriman, sampai kalau ada komplain, sendiri yang urus. Ini sering jadi masalah," paparnya.

Ia bilang, sering kali pemilik bisnis lupa kalau ada 3 level yang harus dipenuhi dalam berbisnis yaitu operasional, manajerial, dan strategis. Maka penting memiliki pekerja di bagian produksi, di bagian pengemasan dan pemasaran, juga yang memikirkan ekspansi bisnis kedepannya.

"Jadi untuk berevolusi dari dagang ke bisnis, perlu mulai memikirkan operasional bisnisnya, manajemen bisnis, hingga strategis bisnis ke depannya. Itu semua sangat dipengaruhi dengan mindset si pemilik bisnis," pungkas Ligwina.

Baca juga: PLN Buka Peluang Kerja Sama Bisnis ‘Pom Bensin’ Mobil Listrik

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.