Pemerintah Ajak Merck dan Pfizer Bangun Pabrik Obat Covid-19 di RI, Ini Perkembangannya

Kompas.com - 08/11/2021, 19:30 WIB
Ilustrasi obat molnupiravir. Ini adalah obat oral antivirus yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Merck untuk menangani Covid-19. Uji klinis sementara menunjukkan, obat ini mampu menekan risiko masuk ke rumah sakit atau kematian hingga 50 persen. SHUTTERSTOCK/Sonis PhotographyIlustrasi obat molnupiravir. Ini adalah obat oral antivirus yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Merck untuk menangani Covid-19. Uji klinis sementara menunjukkan, obat ini mampu menekan risiko masuk ke rumah sakit atau kematian hingga 50 persen.

JAKARTA, KOMPAS.com - Baru-baru ini, pemerintah Indonesia bertemu dengan perusahaan produsen farmasi Merck dan Pfizer di Amerika Serikat (AS).

Pertemuan tersebut diwakilkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan serta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Di sana, mereka membujuk kedua produsen farmasi tersebut agar mau membangun pabrik di Indonesia.

Baca juga: Terbang ke AS, Luhut dan Menkes Rayu Merck Bikin Obat Covid-19 di Indonesia

Bagaimana kelanjutan dari pertemuan itu?

Luhut bilang, pertemuan dengan Merck dan Pfizer ada kemajuan meski tidak dijelaskan secara detil.

"Mengenai obat ini (Molnupiravir) dan vaksin saya pikir, pemerintah sangat agresif dan saya terlibat di dalamnya. Saya kira pembicaraan kita dengan Merck dan Pfizer sudah sangat maju. Kita berharap pabriknya harus ada dalam negeri sehingga kita tidak jadi pengimportir saja tetapi menjadi produser," ujar Luhut dalam konferensi pers virtual, Senin (8/11/2021).

Pemerintah ingin Indonesia tidak lagi menjadi negara importir lantaran bahan baku obat-obatan selalu didatangkan dari negara luar.

Alasannya, Indonesia selama ini bergantung bahan baku obat-obatan dari luar malah menemukan kendala seperti sulitnya mencari obat mengandung parasetamol.

Baca juga: Antisipasi Lonjakan Covid-19 Usai Natal dan Tahun Baru, Bio Farma Amankan Pasokan Obat

"Negara kita yang sebesar ini jangan tetap menjadi negara pengimpor saja. Kita sudah alamin bagaimana sakitnya kita tidak bisa mendapatkan parasetamol karena India diblock. Sakitnya kita sudah tanda tangan kontrak untuk mendapatkan vaksin Astrazeneca ditahan oleh India. Jadi ini pengalaman-pengalaman pahit yang harus kita selesaikan," ungkap Luhut.

Akibat pengalaman pahit itulah Luhut meminta kepada para importir menyudahinya dan mendorong investasi untuk membangun negeri.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.