KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant
Eileen Rachman dan Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia. EXPERD diperkuat oleh para konsultan dan staf yang sangat berpengalaman dan memiliki komitmen penuh untuk berkontribusi pada perkembangan bisnis melalui layanan sumber daya manusia.

Self-Coaching

Kompas.com - 29/01/2022, 08:05 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SUKSES dalam karier menjadi impian setiap orang. Saat ini, kesuksesan itu pun tampaknya bukan sesuatu yang baru bisa diraih setelah puluhan tahun. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa beberapa orang yang berada di kelompok usia 30-an, 40-an, bahkan 20-an sudah meraih kesuksesan.

Siapa yang tidak ingin mengenyam kesuksesan dan langsung pensiun pada usia muda? Sayangnya, keberadaan krisis, disrupsi, serta perubahan terus-menerus pada era volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA) saat ini membuat jalan menuju sukses tidak mulus bagi semua orang. Karena itulah, banyak lembaga berusaha mengembangkan program coaching untuk membantu para talent meraih kesuksesan.

Peran penting coaching

Proses coaching membantu kita untuk bisa melihat diri sendiri, mengeksplorasi pilihan-pilihan baru, dan berani menerobos hambatan yang selama ini menghalangi. Akan tetapi, tidak semua talent dapat menarik manfaat positif dari coaching. Penyebabnya beragam, mulai dari tidak ada waktu yang tepat, biaya yang cukup tinggi, hingga tidak tersedia coach kompeten yang dapat mengembangkan program yang cocok dengan kebutuhan talent.

Dalam situasi seperti itu, ada baiknya kita meninjau dan memperluas definisi coaching. Coaching tidak lagi sekadar sebuah kegiatan, tetapi menjadi suatu konsep pendekatan. Dengan mengambil konsep coaching sebagai suatu pendekatan, individu dapat mempelajari teknik-teknik yang digunakan oleh seorang coach dan membuatnya sebagai pilihan-pilihan untuk pengembangan dirinya sendiri.

Self-coaching is the skill of asking

Dalam pendekatan coaching, hal utama yang perlu dilakukan setiap coach atau calon coach adalah menguji pendekatan-pendekatan tersebut pada dirinya sendiri. Hal ini merupakan dasar dari pembenahan diri. Dengan pendekatan ini, self-awareness kita akan meningkat. Kita pun merasa lebih self-sufficient.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Self-coaching adalah kemampuan kita untuk mengajukan pertanyaan pada diri sendiri demi peningkatan self-awareness dan pengaktifan reaksi-reaksi positif. Setiap orang sebetulnya dapat melakukan coaching pada dirinya sendiri, terlepas dari pengalaman dan keahliannya.

Kita memang perlu berlatih untuk menyusun dan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri. Dengan kesadaran hasil refleksi ini, tindakan kita dalam menghadapi tantangan akan diwarnai resilience dan kemandirian yang lebih besar.

Ada tiga keterampilan coaching yang perlu kita kembangkan. Keterampilan pertama adalah self-awareness.Self-awareness doesn’t arise by accident. We make it happen.”

Kita bisa memulainya dengan membuat mind map. Tuliskan semua tantangan kita dengan pertanyaan-pertanyaan 5W 1H, yakni what, when, where, who, why, dan how.

Misalnya, ketika ingin meningkatkan kualitas relasi interpersonal kita, daftar pertanyaan tersebut bisa disusun sebagai berikut.

  1. Who: Siapa target yang kita inginkan untuk membina hubungan lebih baik?
  2. What: Hal-hal apa saja yang bisa mengganggu relasi ini? Apa kekurangan yang ada dalam diri kita dalam berhubungan dengan orang lain?

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar itu saja, kita sudah memperdalam self-awareness.

Langkah selanjutnya, kita perlu membedakan antara intent dan impact. Misalnya, seseorang yang terus-menerus gagal mengubah cara bekerja anak buahnya agar lebih sistematis perlu mempertanyakan apa intensi dirinya memberikan arahan tersebut dan apa dampak yang dirasakan oleh anak buahnya.

Bisa jadi, niat baiknya tersebut dirasakan sebagai beban oleh anak buahnya sehingga dikerjakan dengan berat hati. Oleh karena itu, ia perlu mengganti pendekatannya dengan menunjukkan lebih jelas manfaat-manfaat yang dapat mereka peroleh ketika bekerja dengan metode yang lebih terstruktur.

Keterampilan kedua adalah mengajukan pertanyaan. Banyak individu yang begitu mengajukan pertanyaan terasa menyudutkan atau “mengecilkan” orang lain. Di sinilah ia perlu berlatih untuk mengajukan pertanyaan efektif dan tetap berdampak positif, baik pada orang lain maupun pada dirinya sendiri.

Untuk itu, gunakan metode 3O dalam mengajukan pertanyaan. O yang pertama adalah “Open”. Contohnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang dimulai dengan 5W 1H tadi.

Pertanyaan terbuka itu biasanya dapat mengeksplorasi diri kita lebih lanjut. Misalnya, kita bisa bertanya hal-hal apa saja yang membuat kita menyukai pekerjaan, ketimbang bertanya apakah kita menyukai pekerjaan yang hanya memberikan jawaban iya atau tidak. Dengan pertanyaan tersebut, kita akan mengetahui perasaan kita secara lebih luas.

O yang kedua adalah “Ownership”. Mengingat hal yang paling mudah dikendalikan adalah diri sendiri, kita perlu membiasakan diri untuk menjadikan diri sendiri sebagai subyek perubahan. Misalnya, kita bisa bertanya, “apa yang harus saya perbuat agar anak buah lebih rajin menepati deadline?”, ketimbang bertanya, “mengapa anak buah tidak bisa menepati deadline, padahal sudah ditegur berkali kali?”.

O yang ketiga adalah “One-at-a-time”. Kita tidak bisa membombardir diri kita dengan pertanyaan demi pertanyaan tanpa memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mengelaborasi jawabannya. Prinsip coaching adalah elaborasi. Oleh karena itu, kita juga perlu bersabar untuk mengajukan pertanyaan pada diri sendiri dan memikirkan jawabannya.

Keterampilan ketiga adalah mendengarkan diri sendiri. Pertanyaan yang diajukan harus dijawab sampai jelas melalui dialog yang seimbang. Bisa saja kita sendiri kaget dengan jawabannya karena terdapat hal-hal yang bertentangan dengan nurani sendiri ataupun kontradiksi antara jawaban yang satu dan yang lain. Teruslah berdialog sampai menemukan atau mengerucutkan masalah yang kita hadapi.

Memperkuat kontrol diri

Bagian terbesar dari self-coaching adalah kemampuan mendengar diri sendiri. Kita semua memiliki dua sisi nurani, yaitu inner critic dan inner coach.

Inner critic harus kita tanggapi. Hal yang tidak benar boleh kita sanggah. Kita pun perlu mencerna terlebih dahulu inner coach kita sebelum bertindak.

Dalam berkarier, kita sering merasa tidak pasti dan gamang. Self-coaching adalah kapabilitas untuk mengembalikan kontrol kita terhadap diri sendiri dan meluruskan arah karier kita.

Keterampilan itu tidak akan pernah usang sampai kita tua. Pasalnya, semakin banyak tanya jawab yang dilakukan pada diri kita, semakin tajam kita dalam mengenal diri sendiri.


Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.