Susun Target Tahun 2023, Sri Mulyani Waspadai Lonjakan Inflasi Global

Kompas.com - 17/02/2022, 08:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terus mewaspadai peningkatan inflasi di dunia untuk menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) serta rancangan awal Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2023.

Musababnya, fenomena lonjakan inflasi ini bukan hanya terjadi di negara maju, tapi juga negara-negara berkembang.

"Lingkungan kedua yang harus diwaspadai adalah lonjakan inflasi dunia, terutama di negara maju. Lingkungan ini harus diwaspadai karena negara emerging juga sudah inflasi meningkat," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers usai sidang kabinet paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (16/2/2022).

Baca juga: Sri Mulyani Sebut Covid-19 Bukan Pandemi Terakhir, Negara G20 Harus Siap-siap

Tercatat, inflasi di Amerika Serikat mencapai 7,5 persen. Sementara itu, inflasi di Argentina tembus 50 persen, Turki 48 persen, Brazil 10,4 persen, Rusia 8,7 persen, dan Meksiko 7,1 persen.

Bendahara negara ini menyebut, kenaikan inflasi di AS akan mendorong kenaikan suku bunga dan pengetatan likuiditas. Alhasil, efek rambatan (spill over) dirasakan oleh seluruh negara di dunia, mulai dari keluarnya aliran modal asing (capital outflow) hingga kenaikan imbal hasil (yield) SBN.

"Dari sisi yield atau imbal hasil SBN yang tentu akan mendorong biaya SUN. Kenaikan inflasi yang tinggi akan bisa mengancam pemulihan ekonomi karena daya beli masyarakat akan tergerus," ucap Sri Mulyani.

Baca juga: Di depan 2 Bos Bank Sentral, Sri Mulyani Ungkap RI Gelontorkan Rp 656,3 Triliun buat Covid-19

Sementara dalam rancangan awal, ekonomi RI dipatok tumbuh 5,3-5,9 persen. Lokomotif utama pertumbuhan berasal dari konsumsi masyarakat yang ditarget tumbuh 5,1 persen, diikuti target investasi sebesar 6,1 persen, dan ekspor sekitar 6-6,7 persen.

Pemerintah mematok, nilai investasi tembus Rp 1.800 triliun-Rp 1.900 triliun, baik yang berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Di sisi lain, defisit akan ditekan pada kisaran normal sekitar 3 persen.

"Tahun 2023 postur APBN akan kembali mengikuti seperti sebelum terjadi pandemi, yaitu postur defisit di bawah 3 persen. Kami akan lakukan langkah-langkah untuk membuat detil dari KEM PPKF untuk kemudian menjadi bahan untuk menyusun RAPBN kita tahun 2023 yang masih akan berjalan," tandas Sri Mulyani.

Baca juga: Sri Mulyani Tagih 3 Janji BRI, Soal Jumlah Nasabah, Kredit UMKM hingga Laba

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.