Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekonom Prediksi Badai PHK akan Meningkat Meski Terbatas

Kompas.com - 26/11/2022, 17:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Belakangan Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus terjadi di perusahaan dalam dan luar negeri akibat ketidakpastian kondisi global.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede memprediksi ke depannya tren PHK karyawan ini akan meningkat tapi tidak secara signifikan.

Pasalnya, sejak 2021 beberapa sektor bisnis yang berorientasi ekspor terpengaruh oleh kenaikan harga kontainer yang sempat menyentuh 10.000 dollar AS untuk kontainer ukuran 40 feet.

Namun kini trennya mengalami penurunan ke level harga 3.000 dollar AS meskipun masih di atas harga normal yakni 2.000 dollar AS. Oleh karenanya, dia memperkirakan di tahun depan sektor-sektor ini bebannya tidak seberat tahun ini.

Baca juga: Omzet Turun Akibat Inflasi, Ini Strategi Untuk UMKM agar Bisnis Tetap Jalan Tanpa PHK Karyawan

Adapun berdasarkan data UNCTAD, 10 sektor yang terdampak lonjakan harga kontainer ini ialah sektor produk komputer, elektrik, dan optik; furnitur dan manufaktur lain; tekstil, pakaian jadi, dan produk berbahan kulit; produk karet dan plastik; farmasi, peralatan listrik; peralatan transportasi; kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer; produk logam fabrikasi; serta mesin dan peralatan.

"Tapi apakah pengangguran tahun depan memang kita melihat ada kecenderungan trennya meningkat, meningkat tapi terbatas saya pikir," ujarnya saat webinar Market Outlook 2023, Sabtu (26/11/2022).

Baca juga: Kompensasi PHK, dari Uang Pesangon hingga JKP

 


Selain itu, meski beberapa sektor bisnis terdampak dari kondisi ekonomi global, namun dari sektor padat karya seperti hilirisasi nikel masih membutuhkan tenaga kerja yang cukup besar.

"Sekalipun memang akan ada kenaikan UMP (upah minimum provinsi) tapi saya pikir kebutuhan terhadap tenaga kerjanya pun khususnya padat karya untk hilirisasi nikel itu masih akan tetap besar," tambahnya.

Menurutnya, badai PHK ini terjadi sebagai dampak dari perlambatan pertumbuhan ekonomi suatu negara yang menyebabkan penurunan kinerja di berbagai sektor bisnis.

"Kalau pengangguran itu sebagai akibat ya jadi bukan dampak (perlambatan) ekonomi," tukasnya.

Baca juga: Marak PHK, Simak 5 Tips agar Keuangan Tidak Seret

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+