Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Daftar 10 Negara dengan Inflasi Pangan Tertinggi

Kompas.com - 27/11/2022, 07:33 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Tingkat inflasi pangan secara global tengah berada dalam tren penurunan. Meskipun demikian, data Bank Dunia (World Bank) menunjukkan, tingkat inflasi pangan domestik banyak negara masih tinggi, imbas dari berlanjutnya ketidakpastian ekonomi dunia.

Laporan Food Security World Bank periode November 2022 menyebutkan, tingkat inflasi domestik yang datanya diambil dari laporan indeks harga konsumen (IHK) tiap negara masih tinggi di mayoritas negara berpendapatan rendah, menengah, hingga tinggi.

Hal itu tercermin dari data yang menunjukkan 83,3 persen negara berpendapatan rendah, 90,7 persen negara berpendapatan menengah, serta 95 persen negara berpendapatan menengah ke atas, masih mencatatkan tingkat inflasi pangan di atas 5 persen, bahkan sebagian besar angkanya dua digit.

Baca juga: Omzet Turun Akibat Inflasi, Ini Strategi Untuk UMKM agar Bisnis Tetap Jalan Tanpa PHK Karyawan

Jika dilihat berdasarkan wilayahnya, negara di kawasan Afrika menjadi yang paling terdampak inflasi pangan. Banyak negara mencatatkan inflasi di rentang 50 hingga 30 persen, bahkan ada yang melebih 30 persen. Setelah Afrika, Amerika Utara menempati peringkat kedua kawasan paling terdampak inflasi pangan, diikuti Amerika Latin, Asia Selatan, Eropa, dan Asia Tengah.

Adapun negara dengan tingkat inflasi tertinggi secara tahunan (year on year/yoy) hingga awal November 2022 adalah sebagai berikut:

  1. Zimbabwe 321 persen
  2. Lebanon 208 persen
  3. Venezuela 158 persen
  4. Turkiye 99 persen
  5. Argentina 87 persen
  6. Sri Lanka 86 persen
  7. Iran 84 persen
  8. Rwanda 41 persen
  9. Suriname 40 persen
  10. Laos 39 persen

Baca juga: Harga Bahan Pangan Naik, BI Perkirakan Inflasi November 2022 Capai 0,18 Persen


Tingginya harga komoditas pangan di banyak negara diikuti oleh harga bulir padi-padian yang masih tinggi dan fluktuatif. Berdasarkan laporan teranyar Agricultural Market Information System (AMIS) Market Monitor, ketidakpastian kelanjutan kesepakatan Black Sea Grain Initiative menjadi salah satu penyebab harga bulir menjadi sangat volatil.

International Grains Council Grains and Oilseeds Index menunjukkan, harga bulir meningkat 1 bulan secara bulanan pada Oktober lalu. Ini diikuti dengan kenaikan harga gandum sebesar 3 persen.

"Dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan Rusia dan Ukraina, serta kabar penarikan sementara Rusia dari keberlanjutan Black Sea Grain Initiative," tulis laporan tersebut.

Baca juga: Berpotensi Meningkatkan Inflasi, BI: Upah Buruh Jangan Terlalu Naik Berlebihan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+