Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Investasi "Single Stock Futures" dan Perbedaannya dengan Saham

Kompas.com - 17/03/2024, 21:00 WIB
Kiki Safitri,
Yoga Sukmana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal meluncurkan single stock futures (SSF) atau produk derivatif baru sebagai pilihan investasi yang memberikan keuntungan baik ketika pasar dalam kondisi bullish maupun bearish.

Lalu apa itu Single Stock Futures? bagaimana cara investasinya? dan apa keuntungannya?

Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, SSF adalah perjanjian atau kontrak antara dua belah pihak untuk menjual atau membeli suatu saham, yang mana nantinya saham akan menjadi underlying dari produk SSF.

Baca juga: Siap-siap, BCA Bakal Tebar Dividen Rp 270 Per Saham

“Peluncuran produk SSF ini akan melengkapi produk derivatif yang dimiliki BEI selama ini. Produk SSF ini memiliki karakteristik yang berbeda dan merupakan kontrak dua belah pihak untuk membeli suatu saham,” kata Jeffrey dalam edukasi wartawan pasar modal, Jumat (15/3/2024).

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 1 BEI Firza Rizqi Putra mengatakan, peluncuran SSF diharapkan bisa menjadi jawaban alterntif investasi bagi para investor di Indonesia.

“Ini suatu investasi yang bisa mamanfaatkan keuntungan saat market bearish. Investor ritel bisa mendapat keuntungan saat market bearish, dan tidak perlu melakukan cut loss, averaging down atau menunggu sampai kembali lagi (normal). Beda dengan saham yang memiliki cost of fund atau kerugian saat market bearsih,” ujar Firza dalam edukasi wartawan pasar modal, Jumat (15/3/2024).

Baca juga: Simak 5 Tips Investasi secara Aman

Firza mengatakan, SSF tidak hanya bisa dimanfaatkan saat market bearish saja, saat market bullish SSF juga bisa mendapat keuntungan karena modal transkasi SSF jauh lebih murah.

Dia mencontohkan untuk saham BBCA yang saat ini di harga Rp 10.000-an, atau TLKM yang di harga Rp 4.000-an, bisa dimanfaatkan investor dengan membeli SSF yang harganya hanya 4 persen dari harga saham tersebut.

“Invstor ritel yang sudah advance dan mengetahui teknikal dan fundamental bisa memanfaatkan SSF karena modalnya jauh lebih kecil yaitu 4 persen saja atau 25 kali jauh lebih murah dibandingkan dengan membeli saham BBCA dan TLKM,” ungka dia.

Baca juga: Tiga Instrumen Investasi yang Bisa Dikoleksi Sepanjang 2024

Pembelian dan penjualan SSF

Di sisi lain, mekanisnme pembelian SSF juga sama dengan saham. SSF adalah salah satu instrumen investasi yang high risk high return, tapi diawasi oleh OJK dan BEI.

Keuntungannya dan realisasinya juga lebih cepat yakni dalam 1 hari dalam bentuk tunai. Fee transaksi juga lebih murah dibandingkan dengan transaksi saham.

Fee transaksi berdasarkan jumlah kontrak, dan bukan dari jumlah value,” tegas dia.

Firza mengatakan ketika market sedang naik atau turun, investor tidak perlu kawatir karena tetap bisa mendapatkan potensi cuan. Ketika market naik, investor bisa beli harga rendah dan jual saat harga tinggi.

“Misal, kita beli TLKM futures atau BBCA futures dengan harga rendah, ketika harga naik bisa dijual, dan untungnya lebih banyak dibanding beli saham karena modal lebih kecil,” kata Firza.

Sementara itu, ketika market turun investor tidak harus khawatir lagi, karena investor yang mempunyai portofolio bisa melakukan lindung nilai ketika market turun, dan bisa langsung jual atau short position jadi bisa mendapat keuntungan saat pasar turun.

Halaman:


Terkini Lainnya

Simak 10 Tips Investasi di Pasar Modal bagi Pemula

Simak 10 Tips Investasi di Pasar Modal bagi Pemula

Earn Smart
Pantau Dampak Pelemahan Rupiah, Kemenhub: Belum Ada Maskapai yang Mengeluh

Pantau Dampak Pelemahan Rupiah, Kemenhub: Belum Ada Maskapai yang Mengeluh

Whats New
Cara Cek Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Aktif atau Tidak

Cara Cek Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Aktif atau Tidak

Whats New
Pengamat: Starlink Harusnya Jadi Penyedia Akses bagi Operator Telekomunikasi...

Pengamat: Starlink Harusnya Jadi Penyedia Akses bagi Operator Telekomunikasi...

Whats New
Studi Ungkap 20 Persen Karyawan di Dunia Mengalami Kesepian, Ini Cara Mengatasinya

Studi Ungkap 20 Persen Karyawan di Dunia Mengalami Kesepian, Ini Cara Mengatasinya

Work Smart
PGN Sebut Penjualan Gas Bumi di Jawa Barat Mencapai 45 BBTUD

PGN Sebut Penjualan Gas Bumi di Jawa Barat Mencapai 45 BBTUD

Whats New
Kemenhub dan US Coast Guard Jajaki Peluang Kerja Sama Pengembangan SDM KPLP

Kemenhub dan US Coast Guard Jajaki Peluang Kerja Sama Pengembangan SDM KPLP

Whats New
Indonesia Disebut Berpotensi Jadi Pemimpin Produsen Hidrogen Regional, Ini Alasannya

Indonesia Disebut Berpotensi Jadi Pemimpin Produsen Hidrogen Regional, Ini Alasannya

Whats New
Kuota BBM Subsidi 2025 Diusulkan Naik Jadi 19,99 Juta KL

Kuota BBM Subsidi 2025 Diusulkan Naik Jadi 19,99 Juta KL

Whats New
Bos Superbank Akui Selektif  Jalin Kerja Sama Pembiayaan Lewat 'Fintech Lending'

Bos Superbank Akui Selektif Jalin Kerja Sama Pembiayaan Lewat "Fintech Lending"

Whats New
Sambangi Korsel, Pertamina Gas Jajaki Peluang Bisnis Jangka Panjang LNG Hub

Sambangi Korsel, Pertamina Gas Jajaki Peluang Bisnis Jangka Panjang LNG Hub

Whats New
Kata Sandiaga soal Banyaknya Keluhan Tiket Pesawat yang Mahal

Kata Sandiaga soal Banyaknya Keluhan Tiket Pesawat yang Mahal

Whats New
Elpiji 3 Kg Direncanakan Tak Lagi Bebas Dibeli di 2027

Elpiji 3 Kg Direncanakan Tak Lagi Bebas Dibeli di 2027

Whats New
Blibli Catat Penjualan 1.000 Motor Yamaha NMAX Turbo dalam 40 Menit

Blibli Catat Penjualan 1.000 Motor Yamaha NMAX Turbo dalam 40 Menit

Whats New
Bos Pupuk Indonesia: Produksi Padi akan Turun 5,1 Juta Ton jika Program HGBT Tak Dilanjutkan

Bos Pupuk Indonesia: Produksi Padi akan Turun 5,1 Juta Ton jika Program HGBT Tak Dilanjutkan

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com