Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bos Bulog: Harga Beras Akan Sulit Kembali ke Titik Semula Seperti Setahun Lalu...

Kompas.com - 19/03/2024, 05:05 WIB
Elsa Catriana,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurti menyatakan harga beras akan sulit kembali ke harga setahun yang lalu yakni rata-rata nasional harga beras premium di Rp 12.500 per kilogram.

Hal menurut dia lantaran harga produksi gabah saja saat ini sudah melonjak naik. Adapun harga beras adalah dua kali lipat dari harga gabah.

“Saya tidak gembira mengatakan harga beras akan sulit untuk kembali ke titik semula seperti setahun yang lalu dan ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan karena upah tenaga kerja yang jadi biaya produksi gabah itu naik. UMR kan naik berarti nanti upah tenaga kerja informal akan naik,”ujar Bayu dalam acara Bicara BUMN di Jakarta, Senin (18/3/2024).

Baca juga: Mendag: Saya Gembira Harga Beras Turun sampai Rp 2.000 Per Kg

Kemudian juga disusul karena naiknya harga sewa lahan beserta biaya pupuk. “Dengan kenaikan secara internasional kenaikan bahan bakar, maka pupuk juga naik. Jadi biaya-biaya produksi yang dihadapi oleh petani sudah naik,” kata Bayu.

“Jadi menurut saya kita harus juga melihat itu sebagai faktor yang realnya begitu dan tentu kita tidak senang, tidak gembira melihat itu, tapi faktanya demikian. Jadi oleh sebab itu, menurut perhitungan kami, di Bulog harga itu akan sulit untuk kembali ke titik semula seperti setahun yang lalu,” sambung Bayu.

Adapun harga beras per Senin (18/3/2024) saja, kompak naik untuk semua jenis beras. Seperti beras kualitas Medium I naik menjadi Rp 16.050 per kilogram, beras kualitas medium II naik menjadi Rp 15.800, beras kualitas super I naik mendi Rp 17.350 per kilogram.

Sebelumnya Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso juga mengatakan, harga beras memang sudah sepatutnya naik.

Hal itu lantaran biaya produksi beras mulai dari biaya sewa lahan, biaya pupuk, benih, pestisida hingga biaya distribusi beras sudah tinggi.

“Dengan melihat kondisi sekarang semua ongkos produksi naik, sewa tanah naik, ongkos angku naik, pupuk naik dan pestisida, nampaknya harga gabah sudah tidak ideal kalau bertahan di Rp 5.000 dan harga beras memang sudha seharusnya naik,” ujar Sutarto saat dihubungi Kompas.com, Selasa (5/3/2024).

Baca juga: Harga Beras Masih Mahal Meski Stok Melimpah, Ombudsman RI Sebut 2 Dugaan Penyebabnya

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com