Salin Artikel

Dampak Virus Corona, British Airways Berencana Pangkas 12.000 Pegawai

LONDON, KOMPAS.com - Maskapai penerbangan British Airways membuka peluang untuk memangkas 12.000 pegawai, lantaran terpukulnya bisnis akibat pagebluk virus corona.

Adapun saat ini British Airways memiliki 42.000 orang pegawai.

Dilansir dari BBC, Rabu (29/4/2020), IAG selaku induk perusahaan British Airways menyatakan perlu menerapkan program restrukturisasi sampai permintaan transportasi udara kembali ke level pada tahun 2019 lalu.

Sementara itu, serikat pilot British Airways, Balpa mengaku kecewa dengan kabar tersebut dan bakal menolak setiap pemangkasan pegawai yang dilakukan maskapai itu.

Selain mengoperasikan British Airways, IAG juga merupakan pemilik maskapai Spanyol Iberia dan Aer Lingus Irlandia.

"Proposal masih dalam tahap konsultasi, namun kemungkinan akan berdampak pada sebagian besar pegawai British Airways dan akan berujung pada pemangkasan (jumlah pegawai) hingga 12.000 orang," ujar IAG dalam pernyataannya.

IAG menyatakan, butuh beberapa tahun sampai industri penerbangan kembali ke level sebelum virus corona mewabah. Hal tersebut juga diungkapkan maskapa-maskapai penerbangan di seluruh dunia.

CEO British Airways Alex Cruz dalam suratnya kepada para pegawai menyatakan, dalam beberapa pekan terakhir, outlook industri penerbangan semakin memburuk.

"Kita harus bertindak sekarang. Bisnis kita kuat, dikelola dengan baik, dan telah menghadapi berbagai krisis dalam 100 tahun sejarah kita," ujar Cruz.

"Kita juga harus menghadapi krisis ini sendiri. Tidak ada bantuan dari pemerintah untuk BA dan kita tidak bisa mengharapkan masyarakat untuk mengimbangi gaji. Kita akan melihat beberapa maskapai gulung tikar," imbuhnya.

Saat ini, sekitar 4.500 pilot dan 16.000 awak kabin British Airways sudah dirumahkan sementara. Secara keseluruhan, sebanyak 23.000 pegawai maskapai tersebut telah dirumahkan. 

Adapun sekretaris jenderal Balpa Brian Sutton menyatakan, keputusan pemangkasan pegawai yang dilakukan British Airways datang secara tiba-tiba.


Padahal, kata dia, British Airways sempat menyatakan punya cukup dana untuk menangkal badai virus corona dan menolak dukungan pemerintah.

"Balpa tidak menerima keputusan terkait hilangnya pekerjaan ini dan akan berjuang untuk menyelamatkan setiap pegawai," ungkap Sutton.

Maskapai di seluruh dunia telah susah payah menyelamatkan diri dari dampak virus corona.

Di Inggris, maskapai EasyJet merumahkan 4.000 orang awak kabin di Inggris selama dua bulan. Sementara itu, miliarder dan pebisnis Sir Richard Branson meminta dana pinjaman dari pemerintah untuk menyelamatkan maskapai miliknya, Virgin Atlantic.

Maskapai Australia Qantas merumahkan 20.000 orang pegawai. Adapun maskapai Air Canada juga merumahkan sekira 15.200 pegawai.

Kemudian, maskapai Norwegian Air menyatakan kemungkinan bakal kehabisan dana pada pertengahan Mei 2020.

Di Amerika Serikat, sebanyak 4.800 pilot American Airlines setuju untuk mengambil cuti dengan pemangkasan gaji dan lebih dari 700 orang pilot mengambil pensiun dini.

https://money.kompas.com/read/2020/04/29/174200626/dampak-virus-corona-british-airways-berencana-pangkas-12.000-pegawai

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.