Salin Artikel

Penerimaan Pajak Capai Rp 1.028,5 Triliun hingga Juli 2022

"Untuk pajak, meskipun targetnya sudah dinaikkan tapi masih bisa mengalami penerimaan yang cukup impresif. Penerimaan pajak yang sebesar Rp 1.028,5 triliun itu tumbuh 58,8 persen dibandingkan tahun lalu," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN KiTa, Kamis (11/8/2022).

Menurutnya, penerimaan pajak terus menggambarkan tren positif yang terjadi sejak awal 2022. Ia menilai, kinerja positif itu sejalan dengan tren pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19, meskipun turut disebabkan basis penerimaan yang rendah pada 2021.

Selain itu, pertumbuhan penerimaan pajak juga didorong oleh tren kenaikan harga komoditas global. Seperti diketahui, kenaikan harga komoditas memberikan windfall profit atau keuntungan bagi penerimaan negara, terutama dari batu bara.

Kemudian, kinerja penerimaan pajak juga dipengaruhi kondisi basis pajak yang membaik berkat implementasi UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP), seperti pelaksanaan program pengungkapan sukarela (PPS). Serta didorong pula adanya pemberian insentif pajak yang dipangkas secara bertahap.

"Penerimaan pajak yang sangat kuat disebabkan harga komoditas, betul. Selain itu karena adanya program PPS. Tahun lalu basisnya memang rendah karena memberikan banuak sekali insentif peperjakan, dan ini menyebabkan basis penerimaan tahun lalu menjadi tergerus. Tahun ini dengan pemulihan yang semakin baik, berbagai insentif sudah mulai di-faceout (dihapuskan)," paparnya. 

Rincian penerimaan pajak Januari-Juli 2022

Secara rinci, penerimaan pajak sepanjang Januari-Juli 2022 berasal dari penerimaan pajak penghasilan (PPh) nonmigas senilai Rp

595 triliun atau setara 79,4 persen dari target. Lalu dari penerimaan PPh migas senilai Rp 49,2 triliun atau setara 76,1 persen dari target.

Kemudian dari penerimaan pajak pertambahan nilai atau pajak penjualan barang mewah (PPN/PPnBM) sebesar Rp 377,6 triliun atau 59,1 persen dari target. Serta dari penerimaan pajak bumi dan bangunan (PBB) dan pajak lainnya mencapai Rp 6,6 triliun atau setara 20,5 persen dari target.

Sri Mulyani meyakini, ke depannya penerimaan penerimaan pajak masih akan tumbuh baik sejalan dengan perkembangan ekonomi yang impresif. Penerimaan pajak itu pun akan diandalkan untuk APBN bisa menjalankan fungsinya sebagai shock absorber.

"Jadi penerimaan pajak luar biasa tinggi dan tentu dana ini dipakai untuk bantalan-bantalan shock absorber, baik subsidi, kompensasi, bansos, serta berbagai belanja pemerintah yang lain," tutupnya.

https://money.kompas.com/read/2022/08/12/074500826/penerimaan-pajak-capai-rp-1.028-5-triliun-hingga-juli-2022

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.