Rasio Kredit Macet Naik Terus, OJK Ingatkan Pinjaman Online

Kompas.com - 28/03/2019, 17:25 WIB
Ilustrasi fintech www.thinkstockphotos.comIlustrasi fintech

JAKARTA, KOMPAS.com - Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pertumbuhan fintech peer to peer lending atau pinjaman online cukup pesat.

Total pinjaman outstanding baik yang sudah lunas maupun belum mencapai Rp 7,05 triliun per akhir Februari 2019. Angka tersebut meningkat 600 persen secara tahunan (yoy).

Namun, Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan OJK Yohannes Santoso mengatakan peningkatan penyaluran kredit tersebut dibarengi juga peningkatan kredit macet atau non performing financing (NPF) yang sebesar 3,18 persen, sementara untuk penyaluran kredit yang kurang lancar mencapai 3,17 persen.

Sehingga, penyelenggara fintech P2P lending harus mewaspadai rasio NPF yang terus meningkat tersebut.

Baca juga: OJK: Agar Tak Terlilit Utang Pinjaman Online, Nasabah Harus Tahu Diri

"Kalau diparalelkan dengan bank, jumlah keduanya 6,35 persen (NPF dan kredit kurang lancar), cukup tinggi dibandingkan dengan bank," ujar Santoso di Jakarta, kamis (28/3/2019).

Per Februari 2019, non performing loan (NPL) atau kredit macet perbankan tercatat sebesar 2,59 persen dengan NPL nett sebesar 1,17 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Santoso menjelaskan, tingginya rasio kredit macet fintech peer to peer lending disebabkan oleh tingginya risiko penyaluran kredit melalui platform pinjaman online tersebut.

Baca juga: Butuh Dana, Pilih Pinjaman Online atau Bank?

Meski memang, nominal kredit yang disalurkan oleh pinjaman online lebih rendah dibandingkan dengan perbankan.

Pada Oktober 2018 lalu, rasio kredit macet fintech peer to peer lending masih di kisaran 1 persen. Besarnya lonjakan rasio kredit macet disebabkan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) belum memiliki batasan wajar tingkat NPF selayaknya perbankan.

"Perbankan sudah ada angka tresshold (tidak boleh lebih dari 5 persen) dan itu munculnya bertahun-tahun BI dan OJK punya angka itu. Fintech kan baru berapa tahun, untuk bisa mencapai angka yang wajar normal itu perlu waktu," ujar Santoso.

Baca juga: Per Januari 2019, Pengguna Pinjaman Online Mencapai 5 Juta Rekening

Menurut dia, agar pihak asosiasi yang menaungi 99 fintech P2P lending yang terdaftar di OJK bisa menjaga rasio kredit macet, mereka perlu untuk membuat sebuah pusat data seperti Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK sehingga antara penyelenggara jasa pinjaman online bisa saling menukar informasi debitur.

"Dan mereka sudah punya komitmen kuat untuk membuat semacam SLIK, jadi bisa saling tukar informasi untuk mengubah NPF besar," ujar dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Komentar Analis soal IPO Bukalapak

Ini Komentar Analis soal IPO Bukalapak

Whats New
Naik Rp 2.000, Simak Rincian Lengkap Harga Emas Antam Hari Ini

Naik Rp 2.000, Simak Rincian Lengkap Harga Emas Antam Hari Ini

Whats New
BPK Minta BP Jamsostek Lepas Saham-saham Ini

BPK Minta BP Jamsostek Lepas Saham-saham Ini

Whats New
Bagaimana Cara Cek Tagihan Listrik PLN?

Bagaimana Cara Cek Tagihan Listrik PLN?

Work Smart
Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Spend Smart
Ini Penjelasan Kemenkop UKM Terkait Temuan BPK Terkait BPUM yang Tak Tepat Sasaran

Ini Penjelasan Kemenkop UKM Terkait Temuan BPK Terkait BPUM yang Tak Tepat Sasaran

Rilis
BRI Agro Buka Banyak Lowongan untuk S1, Ini Posisi dan Cara Mendaftarnya

BRI Agro Buka Banyak Lowongan untuk S1, Ini Posisi dan Cara Mendaftarnya

Work Smart
Ingin Kerja di Lembaga Internasional? UNDP Buka Lowongan untuk Lulusan S1 dan S2 Indonesia

Ingin Kerja di Lembaga Internasional? UNDP Buka Lowongan untuk Lulusan S1 dan S2 Indonesia

Work Smart
[POPULER MONEY] Garuda Tak Boleh Terbang ke Hong Kong | Kompensasi Rp 7,3 Triliun untuk Korban Boeing 737 MAX

[POPULER MONEY] Garuda Tak Boleh Terbang ke Hong Kong | Kompensasi Rp 7,3 Triliun untuk Korban Boeing 737 MAX

Whats New
Ini Insentif Pajak yang Diperpanjang Sri Mulyani hingga Akhir Tahun

Ini Insentif Pajak yang Diperpanjang Sri Mulyani hingga Akhir Tahun

Whats New
Penyaluran Kredit Perbankan hingga Mei 2021 Masih Terkontraksi

Penyaluran Kredit Perbankan hingga Mei 2021 Masih Terkontraksi

Whats New
Gandeng Swasta, Kemenhub Mulai Pengembangan Pelabuhan di Gorontalo Tahun Ini

Gandeng Swasta, Kemenhub Mulai Pengembangan Pelabuhan di Gorontalo Tahun Ini

Whats New
Cara Menambah Daya Listrik Berikut Rincian Biayanya

Cara Menambah Daya Listrik Berikut Rincian Biayanya

Whats New
Puncak BBI Berjalan Lancar, Telkom Hadirkan Beragam Dukungan Ekosistem Digital di Flobamora

Puncak BBI Berjalan Lancar, Telkom Hadirkan Beragam Dukungan Ekosistem Digital di Flobamora

Rilis
Riset NielsenIQ: Tingkat Konsumsi Naik, Tren Pemulihan di Tengah Pembatasan Sosial

Riset NielsenIQ: Tingkat Konsumsi Naik, Tren Pemulihan di Tengah Pembatasan Sosial

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X