Misi Diplomasi Sawit, Kampanye Hitam hingga Berdebat dengan Komisi Uni Eropa

Kompas.com - 12/04/2019, 22:12 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (22/1/2019). Kompas.com/Mutia FauziaMenteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (22/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Misi bersama diplomasi antara Indonesia, Malaysia dan Kolombia menentang diskriminasi kelapa sawit oleh Uni Eropa telah dilaksanakan.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution yang memimpin misi gabungan itu mengungkapkan, banyak hal yang di dapatkan dari misi tersebut.

Pertama, hal yang paling mencolok yakni adanya gap pemahaman yang besar terhadap produk kelapa sawit maupun kebijakan pengembangannya di Uni Eropa.

"Karena kampanye hitam (kelapa sawit) memang sudah berjalan lama di Eropa," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (12/4/2019).

Baca juga: Misi Gabungan Menentang Diskriminasi Sawit

Menurut Darmin kampanye hitam kelapa sawit membuat parlemen bahkan masyarakat Eropa memandang negatif kelapa sawit karena dianggap komoditas berisiko tinggi terhadap deforestasi.

Padahal berdasarkan studi International Union for Conservation of Nature (IUCN), kelapa sawit jauh lebih efisien, atau 9 kali lebih efisien dari sisi pengunaan lahan dari pada komoditas penghasil minyak nabati lainnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kelapa sawit juga termasuk komoditas yang paling banyak menghasilkan minyak nabati dari satu hektar lahan dibandingkan komoditas penghasil minyak nabati lainnya.

Pandangan negatif ini tercermin di dalam pertemuan antara delegasi dengan Komisi Eropa. Darmin mengungkapan, terjadi perdebatan keras soal kelapa sawit.

Baca juga: Luhut: Diskriminasi Sawit, RI Pertimbangkan Keluar dari Kesepakatan Paris

Komisi Eropa merupakan pihak yang merancang Delegated Act, aturan yang ditentang negara produsen kelapa sawit karena memasukan kelapa sawit sebagai komoditas berisiko tinggi terhadap deforestasi.

Bila diterapkan, aturan ini bisa membuat minyak kelapa sawit dilarang digunakan untuk biodisel di Eropa.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.