Indonesia, Negara Layak Investasi dengan Daya Saing yang Tinggi

Kompas.com - 03/06/2019, 06:07 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi

MENJELANG libur panjang Idul Fitri, terdapat dua kabar menggembirakan bagi pemerintah Indonesia.

Yang pertama adalah kenaikan peringkat kredit Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan outlook stable dari lembaga pemeringkat Standard and Poor (S&P).

Lembaga pemeringkat S&P adalah lembaga independen yang memberikan penilaian seberapa layak utang yang dikeluarkan suatu negara/perusahaan dapat dijadikan investasi.

Selain S&P, Indonesia juga sudah mendapat pemeringkat Baa2/BBB dengan outlook stabil/positif dari empat lembaga lainnya yakni Fitch, JCRA (Japan Credit Rating Agency), R&I (Rating and Investment), dan Moody’s.

Dengan demikian, Indonesia dilihat oleh lembaga pemeringkat internasional sebagai negara yang layak investasi dengan kategori risiko yang rendah. Suatu capaian luar biasa dari tim ekonomi pemerintah Indonesia.

Baca juga: Kado Lebaran, Peringkat Daya Saing dan Kredit RI Naik

Apalagi peringkat S&P kali ini dicapai dengan langsung naik dari BBB-/stable menjadi BBB/stable, tanpa melalui BBB-/positive.

Capaian tersebut langsung di respons positif oleh pasar keuangan. Mata uang rupiah pad Jumatr (31/5/2019) ditutup menguat 0,99 persen di level 14.273.

Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  ditutup melonjak 1,72 persen pada level 6.209,12. Nilai transaksi perdagangan tercatat Rp10,65 triliun dan terdapat aksi net buy dari investor asing sebesar Rp 1,43triliun, meningkat tajam dari Rp 331,74 miliar pada hari perdagangan sebelumnya.

Terdapat beberapa alasan mengapa S&P menganggap Indonesia layak untuk naik peringkat, Yang pertama bahwa ekonomi Indonesia secara konsisten lebih baik dari negara-negara peers pada tingkat pendapatan yang sama. 

Hal itu tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat, berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Pertumbuhan PDB per kapita riil di Indonesia mampu tumbuh 4,1 persen berdasarkan rata-rata tertimbang 10 tahun. Angka ini di atas rata-rata pertumbuhan PDB per kapita riil seluruh dunia yang hanya sekitar 2,2 persen.

Baca juga: Meski Peringkat Naik, Ini Masih Jadi PR Besar Indonesia

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X