Industri Olahraga Potensial Dikembangkan di Indonesia

Kompas.com - 17/06/2019, 18:17 WIB
Keceriaan peserta lari 3 Km di acara roadshow The Tour Borobudur Marathon 2019 di Yogyakarta Minggu (05/05/2019) KOMPAS.com / WIJAYA KUSUMAKeceriaan peserta lari 3 Km di acara roadshow The Tour Borobudur Marathon 2019 di Yogyakarta Minggu (05/05/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Tren olahraga lari di Indonesia menunjukkan kenaikan positif, terlihat dari peningkatan jumlah gelaran acara lari dan partisipasi masyarakat dari berbagai latar belakang.

Tahun 2019 diperkirakan ada sekitar 340 event lari yang tersebar di lebih dari 20 kota di Indonesia. Angkanya meningkat 300 persen dari tahun 2014 yang hanya sebanyak 102 event.

Event tersebut pun rutin digelar tahunan, seperti Bali Marathon dan Borobudur Marathon untuk di dalam negeri hingga kompetisi bergengsi di luar negeri seperti Tokyo Marathon dan London Marathon.

Di luar kompetisi lari resmi, aktivitas lari semakin banyak digeluti karena dianggap olahraga yang paling mudah dan fleksibel.

Dampak yang paling terlihat adalah berkembangnya komunitas-komunitas lari berbasis daerah yang menyatukan peminat lari dari berbagai kalangan. Komunitas ini bahkan berperan cukup besar dalam menciptakan “inovasi unik” dalam berlari, misalnya komunitas lari gunung (trail running) dan komunitas lari malam yang banyak diikuti karyawan.

Founder Runhood, Adystra Bimo mengatakan, fakta tersebut menunjukkan bahwa industri olahraga, khususnya lari, memiliki potensi besar dalam hal bisnis jika dikembangkan di Indonesia. Runhood merupakan pengembang konten independen seputar olahraga lari. Tujuannya yakni membangun ekosistem industri olahraga di Indonesia.

"Industri olahraga di Indonesia sangat potensial untuk dikembangkan seiring dengan prestasi atlet Indonesia yang meningkat," ujar Dystra dalam keterangan tertulis, Senin (17/6/2019).

Ditambah lagi tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjalani gaya hidup sehat. Di Indonesia, kata Dystra, praktik sports marketing masih terbatas pada sponsorship dan endorsement dari brand kepada atlet atau klub.

Namun umumnya para pemilik brand belum memahami kekuatan dari klub atau atlet tersebut dalam merepresentasikan produk mereka. Sehingga hanya sebatas memanfaatkan ajang kompetisi sewaktu-waktu saja, misal saat momen Asian Games.

Oleh karena itu, Dystra menilai perlu lebih banyak lagi dialog dengan para brand untuk mengelola strategi sports marketing agar para sports talent dapat mendukung aktivitas pemasaran produk dengan lebih baik.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Runhood mulai melirik peluang diversifikasi bisnis di awal tahun 2018, yakni sports marketing agency. Dystra mengatakan, banyak selling point yang bisa dieksplor di industri olahraga.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X