Maret 2019, Penduduk Miskin Indonesia Turun Jadi 25,14 Juta Orang

Kompas.com - 15/07/2019, 13:58 WIB
Ilustrasi miskin dan kaya erllreIlustrasi miskin dan kaya

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2019 berjumlah 25,14 juta jiwa atau 9,41 persen.

Angka tersebut lebih rendah 0,53 juta jiwa dibandingkan dengan penduduk berpengeluaran per kapita di bawah garis kemiskinan pada September 2018 lalu.

Kepala BPS Suhariyanto memperinci, persentase penduduk miskin pada periode September 2018 hingga Maret 2019 di daerah perkotaan mengalami penurunan sebesar 136.500 orang, yakni dari 10,14 juta jiwa pada September, menjadi 9,99 juta jiwa pada Maret 2019.

Sedangkan penduduk miskin di pedesaan tercatat turun sebesar 393.400 jiwa dari 15,54 juta jiwa pada September 2018 menjadi 15,15 juta di Maret 2019.

"Presentase kemiskinan di perkotaan turun dari 6,89 persen menjadi 6,69 persen. Sementara di perdesaan turun dari 13,10 persen menjadi 12,85 persen," ujar Suhariyanto di Jakarta, Senin (15/7/2019).

Baca juga: Sri Mulyani: Saatnya Indonesia Jadi Negara Maju, Lepas dari Kemiskinan

Adapun jika dirinci berdasarkan sebaran pulau, jumlah penduduk miskin terbesar berada di Maluku dan Papua sebesar 20,91 persen terhadap keseluruhan populasi. Sementara, persentase penduduk miskin terendah berada di Pulau Kalimantan dengan andil sebesar 5,93 persen.

"Dari sisi jumlah, sebagian besar penduduk miskin masih berada di Pulau Jawa sebanyak 12,72 juta orang sedangkan jumlah penduduk miskin terendah berada di Pulu Kalimantan 0,97 juta orang," katanya.

Adapun garis kemiskinan pada Maret 2018 tercatat sebesar Rp 425.250 per kapita atau per bulan dengan komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp 313.232 (73,66 persen) dari garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp 112.018 (26,34 persen).

Baca juga: Kemensos: Korban Bencana Alam yang Jatuh Miskin akan Dapat PKH

Sedangkan, komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan garis kemiskinan terbesar di perkotaan dan perdesaan adalah masih dipicu oleh sektor perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

"Beras masih memberi sumbangan sebesar 20,59 persen di perkotaan dan 25,97 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap garis kemiskinan 12,22 persen di perkotaan dan 11,36 persen di perdesaan," jelas Suhariyanto.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X