KILAS

Rhenald Kasali: Digitalisasi Kehidupan Bawa Kita Hadapi Era #MO

Kompas.com - 30/08/2019, 19:06 WIB
Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis Kementerian BUMN Hambra (tengah) bersama Founder Rumah Perubahan yang juga Komisaris Utama Telkom Rhenald Kasali (kiri) dan Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah pada acara Bedah Buku #MO di Jakarta, Kamis (29/8). DOK. Humas TelkomDeputi Bidang Infrastruktur Bisnis Kementerian BUMN Hambra (tengah) bersama Founder Rumah Perubahan yang juga Komisaris Utama Telkom Rhenald Kasali (kiri) dan Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah pada acara Bedah Buku #MO di Jakarta, Kamis (29/8).


KOMPAS.com
- Profesor Rhenald Kasali mencatat, digitalisasi kehidupan telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap cara setiap orang melakukan konsumsi, kegiatan ekonomi produktif, menyebarkan informasi dan menjalani kehidupan itu sendiri

Hal ini berpengaruh terhadap banyak hal, mulai dari marketing, komunikasi publik, pelayanan jasa publik, leadership hingga pengelolaan ekonomi.

"Bahkan industri akan dan tengah dihantui oleh gejala kehilangan the main yang menjadi sumber pendatannya," katanya dalam peluncuran buku Mobilisasi dan Orkestrasi atau #MO, di Vertical Garden, Telkom Landmark Tower, Jakarta, Kamis (29/8/2019).

Surat kabar, kata dia, adalah korban pertama ketika mereka kehilangan pendapatan dari penjualan koran dan iklan. Disusul televisi. Lalu airlines tak dapat hidup dari tiket. Demikian juga industri telekomunikasi tak dapat hidup dengan hanya mengandalkan pendapatan dari voice.

“Inilah era #MO. Era yang membuat banyak teori-teori bisnis jadi usang, dan berbagai model bisnis tak lagi relevan. Banyak orang yang kebingungan. Dan yang pasti, era yang membuat banyak orang yang gagal paham. Termasuk, di kalangan akademisi yang masih berkutat dengan teori dan asumsi lama,” kata dia.

Orkestrasi

Selain mobilisasi, menurut Rhenald, era MO ditandai dengan munculnya cara-cara baru dalam value creation yang menjadi dasar ekonomi produktif.

Bila dulu value creation bersifat internal dan didapat dari aset-aset tangible melalui skala ekonomis, kini justru didapat dari sisi permintaan melalui ekosistem. Karena itulah timbul kebingungan-kebingungan. Salah satunya adalah menentukan siapa pemilik unicorn di Asia Tenggara.

“Hal lain yang juga memunculkan gagal paham adalah mekanisme valuasi akutansi tentang keuntungan dan kekayaan perusahaan digital, atau perusahaan yang mulai melakukan digitalisasi,” ujar Rhenald seperti dalam keterangan tertulis yang Kompas.com terima, Jumat (30/8/2019).

Berbicara mengenai model bisnis yang baru, Rhenald mengatakan, sebelumnya perusahaan-perusahaan besar yang incumbent cenderung selalu melakukan kontrol resources dalam rantai produksinya. Namun di era sekarang hal itu sudah tak relevan lagi.

Saat ini, kata dia, yang diperlukan bukan lagi mengontrol resources, namun membangun ekosistem bisnis yang memungkinkan pelaku bisnis bisa melakukan orkestrasi atas berbagai resouces yang ada di luarnya.

Untuk hal ini, Rhenald memberikan contoh bagaimana produsen ponsel Nokia yang bangkrut dan iPhone bertahan terus hingga saat ini.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X