Indonesia Kaya Hasil Laut, tetapi Ekspor Ikan Kalah oleh Vietnam...

Kompas.com - 17/09/2019, 08:39 WIB
Seorang pria memindahkan ikan tuna yellowfin di pelabuhan ikan di Banda Aceh, Kamis (4/4/2019). AFP PHOTO/CHAIDEER MAHYUDDINSeorang pria memindahkan ikan tuna yellowfin di pelabuhan ikan di Banda Aceh, Kamis (4/4/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kekalahan ekspor ikan Indonesia atas Vietnam membuat bertanya-tanya. Pasalnya, hasil laut Vietnam jauh lebih sedikit ketimbang Indonesia. Pasalnya, 30 persen dari total 70 persen perikanan di Asia Pasifik ada di Indonesia.

Data menunjukkan, ekspor Vietnam tahun lalu sudah mencapai 8,9 miliar dollar AS dan bakal bertambah di tahun ini. Sedangkan Indonesia baru memproyeksi ekspor ikan 5,9 miliar dollar AS tahun 2020.

Rupanya, kekalahan tersebut ditengarai karena Vietnam melakukan ekspor kembali ke Amerika dan Eropa setelah membeli ikan di kawasan Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Ini menunjukkan proses pengolahan (processing) ikan Vietnam jauh lebih baik ketimbang RI.

Baca juga: Ekspor Perikanan Indonesia Kalah dengan Vietnam, Ini Masalahnya

"Mereka (Vietnam) punya processing yang excelent, kita harus akui itu. Itu sebabnya penetrasi end-market mereka di Eropa bagus. Mereka jadi salah satu rising starnya produk perikanan di Asia Tenggara makanya dipercaya AS dan Eropa untuk ekspor ke sana," kata Direktur Utama Perum Perikanan Indonesia ( Perindo) Risyanto Suanda dalam acara Ngopi BUMN di Jakarta, Senin (16/9/2019).

Selain itu Risyanto menyebut, Vietnam bisa jauh lebih mudah memasarkan produknya ke AS karena banyak produk yang diminta importir asal negara itu di AS.

"Kalau kita mau sedikit menjustifikasi, rupanya di AS itu importir-importirnya banyak diekspor dari Vietnam juga. Mungkin zaman dulu civil war sebagian pada eksodus ke AS jadi pemainnya di sana bisa ekspor. Ini orang Vietnam juga," ucap Risyanto.

Perlu sertifikasi

Kembali ke soal pengolahan, Indonesia perlu memperbaiki sistem pengolahan ikan hingga mendapat sertifikasi Hazard Analytical Critical Control Point (HACCP) untuk bisa mengekspor ikannya di kawasan Asia.

Sementara untuk AS dan Eropa, diperlukan sertifikasi lolos standar badan makanan AS, FDA dan BRC untuk Eropa.

Di Perum Perikanan Indonesia (Perindo) sendiri, Risyanto mengakui baru 25 persen dari 20 titik tempat pengolahan dan cold storage yang telah mendapat sertifikasi, yaitu di Natuna, Rembang, Brondong, dan Sangihe. Sementara 75 persen lainnya masih berjuang mendapat sertifikasi.

Mengapa 75 persen fasilitas belum tersertifikasi?

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X