Pertumbuhan Ekonomi RI Diprediksi Terus Sekitar 5 Persen hingga 2021

Kompas.com - 10/10/2019, 19:00 WIB
Ilustrasi peta Indonesia ShutterstockIlustrasi peta Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga di angka 5 persen, meski mengalami pelemahan di tahun 2021.

Bank Dunia dalam laporan terbarunya berjudul Weathering Growing Risk memprediksi, ekonomi Indonesia bakal tumbuh sebesar 5,2 persen pada 2019.

Kemudian, pertumbuhan ekonomi RI diprediksi melemah menjadi 5,1 persen di tahun 2020, dan kembali menguat menjadi 5,2 persen di tahun 2021.

"Pertumbuhan itu ditopang oleh konsumsi yang tetap kuat karena inflasi masih rendah dan pasar tenaga kerja kuat," kata Ekonom Utama Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Andrew Mason dalam konferensi video di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Mason mengatakan, posisi fiskal diperkirakan akan terus membaik, sehingga memungkinkan investasi menguat. Utamanya ketika proyek infrastruktur berjalan.

Baca juga: Perang Dagang, Bank Dunia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Asia Makin Sulit

Pertumbuhan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) diproyeksikan akan tumbuh 5 persen pada 2019. Pun bakal terus tumbuh di tahun 2020 dan 2021 masing-masing sebesar 5,5 persen dan 6 persen.

"Meskipun bakal lebih lambat, pertumbuhan investasi diperkirakan tetap kuat, terutama setelah pemilihan umum dan membaiknya sentimen bisnis karena usulan kebijakan peningkatan FDI," kata Mason.

Namun, angka itu masih lebih kecil ketimbang capaian investasi tahun 2018. Data Bank Dunia menyebut, pertumbuhan investasi tahun 2018 mencapai 6,7 persen.

Sedangkan sektor ekspor, Bank Dunia memprediksi ekspor akan lemah di tahun 2019. Bahkan pertumbuhannya negatif sebesar -1 persen pada tahun ini. Namun bakal lebih meningkat sebesar 1,5 persen tahun 2020 dan 2,8 persen tahun 2021.

Baca juga: Kinerja Manufaktur Merosot, Apa Dampaknya ke Pertumbuhan Ekonomi?

Selain ekspor, pertumbuhan impor akan semakin melemah. Sama seperti ekspor, impor bakal tumbuh di tahun-tahun setelahnya, yakni 2 persen di tahun 2020 dan 3,7 persen di tahun 2021.

Untuk defisit transaksi berjalan, diprediksi akan semakin berkurang dalam waktu dekat, dari 2,8 persen dari PDB tahun 2019.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X