Investasi Pengolahan Mahal, Pengusaha Pilih Ekspor Rumput Laut Mentah

Kompas.com - 13/12/2019, 17:21 WIB
Wakil Ketua Umum Kelautan dan Perikanan Kadin Yugi Prayanto di Jakarta, Jumat (13/12/2019). KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYAWakil Ketua Umum Kelautan dan Perikanan Kadin Yugi Prayanto di Jakarta, Jumat (13/12/2019).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengolahan rumput laut Indonesia masih kalah jauh dengan Korea dan China. Pasalnya, proses pengolahan rumput laut menjadi bahan jadi masih terganjal biaya.

Wakil Ketua Umum Kelautan dan Perikanan Kadin Yugi Prayanto mengatakan, kebutuhan dana di bidang pengolahan rumput laut bisa mencapai Rp 200-300 miliar.

"Kendalanya rumput laut itu kalau untuk processing ke stage yang selanjutnya itu butuh dana lebih besar untuk investasi. Cuma untuk satu processing itu saya konsultasi butuh dana sampai Rp 200 miliar," kata Yugi di Jakarta, Jumat (13/12/2019).

Baca juga: KKP Tangani Limbah Sampah 12 Ton di Labuan Bajo

Padahal kata Yugi, Indonesia bisa saja mendapat banyak devisa dari rumput laut yang telah diolah. Mengingat RI memiliki lebih dari 500 jenis rumput laut dan dinobatkan menjadi yang terlengkap.

Sayangnya, kendala investasi dalam proses pengolahan inilah yang membuat Indonesia masih mengekspor rumput laut mentah atau setengah jadi. Sementara para asosiasi berharap pemerintah tak lagi mengimpor rumput laut mentah.

"Yang diharapkan dari asosiasi tuh kemarin Indonesia melarang ekspor mentah juga. (Lebih baik) diproses lagi untuk industri dan nilai tambah. Enggak usah rumput laut kita yang mentah ini dibawa sama orang Korea China. Dia olah dan proses lagi. Terus sudah jadi kosmetik dijual lagi di Indonesia," tutur Yugi.

Baca juga: Mau Kondisi Keuangan Moncer di 2020? Lakukan 4 Hal Ini Sekarang

Salah satu yang bisa memperbaiki industri pengolahan, kata Yugi, adalah industri perbankan dan modal ventura. Yugi berharap industri jasa keuangan memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk mengakses permodalan.

Pasalnya sejauh ini, perbankan nasional hanya memberikan limit 3 persen dari Rp 5.000 triliun untuk produk kelautan dan perikanan.

"Itu kecil sekali kan. Jadi harapan kita mesti ada perbankan atau modal ventura yang bisa mendanai ini untuk nilai tambah. Dibantu permodalan, dikasih kesempatan," pungkasnya.

Baca juga: Erick Thohir Kaget Ada Direksi BUMN Jadi Komisaris di 6 Perusahaan Anak Cucu

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X