BI Sebut Dampak Gejolak Iran Vs AS Tak Signifikan ke Rupiah

Kompas.com - 10/01/2020, 15:02 WIB
Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan kepada media terkait perkembangan moneter, di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (3/1/2020). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIGubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan kepada media terkait perkembangan moneter, di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (3/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan, adanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran tidak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian Indonesia, termasuk ke nilai tukar rupiah.

Ini dibuktikan adanya pergerakan nilai tukar rupiah yang stabil dan masuknya aliran modal asing ke Indonesia yang cukup besar pada pekan pertama Januari 2020 sebesar Rp 10,1 triliun.

"Kami tidak melihat dampak dari apa yang terjadi peningkatan kami sebut risiko dari geopolitik global. Tidak melihat dampak secara signifikan terhadap makroekonomi maupun juga terhadap stabilitas nasional, juga terhadap nilai tukar rupiah," ujar Perry di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (10/1/2020).

Baca juga: Fokus Investor Pada Konflik AS dan Iran Beralih, Pasar Asia Bangkit di Akhir Pekan

"Terbukti, seperti saya sampaikan rupiah bergerak sesuai fundamental menguat, mekanisme pasar, dan juga kredibilitas pasar ditempuh oleh pemerintah dan Bank Indonesia. Terbukti dari premi risiko dalam bentuk CDS (credit default swap) yang terus menurun," lanjut Perry.

Dia menyebut, gejolak Iran-AS hanya bersifat sementara sehingga dipastikan tak akan mempengaruhi terhadap Indonesia. Dalam jangka pendek, memang ada pengaruh kepada Indonesia.

Namun secara fundamental kata dia, gejolak Timur Tengah tidak berpengaruh signifikan kepada ekonomi Indonesia.

Baca juga: Janji Balas Rudal Iran, Trump Siapkan Sanksi Ekonomi Lebih Berat

Selain itu, ia juga mengungkapkan adaya sinyal positif yang akan memperkuat perekonomian Indonesia. Hal ini karena ada rencana kesepakatan perdagangan antara AS dengan China yang ditunggu investor.

"Itu memberikan persepsi positif bahwa ekonomi dunia perkiraan kami di tahun ini sekitar 3 persen meningkat dari tahun lalu, dari 2,9 persen ke 3,1 persen," jelasnya.

Perry mengatakan, dengan kesepakatan perdagangan antara AS-China, akan memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor, mendukung pertumbuhan ekonomi serta memberikan persepsi risiko yang positif bagi aliran modal asing masuk ke dalam negeri.

"Bank Indonesia akan terus memantau berbagai perkembangan global baik secara berkelanjutan," kata dia.

Baca juga: Puluhan Tahun Diembargo AS, Bagaimana Ekonomi Iran?

Sebelumnya, Perwira tertinggi di Iran, Jenderal Qasem Soleimani tewas dalam serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat di Bandara Baghdad, Irak, pekan lalu. Pasca-serangan itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan akan menuntut balas kematian Soleimani.

Beberapa jam setelah pemakaman Soleimani pada Rabu (8/1/2020), Garda Revolusi Iran menghujani markas militer AS di Irak dengan puluhan rudal. Menurut pemimpin Iran tersebut, serangan tersebut merupakan balasan dari kematian Soleimani dan mengancam akan melancarkan serangan lebih mematikan jika AS membalas.

Merespons ancaman Iran ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan, AS menarik diri dari peluang perang dengan Iran. Hal itu dikatakannya dalam jumpa pers, Rabu (8/1/2020) pagi di Gedung Putih.

Baca juga: Erick Thohir Tak Mau Lagi Ada Direksi dan Komisari BUMN Saling “Tusuk-tusukan”

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X