Di Bank Ini Hampir Seluruh Nasabah dan Pegawainya Perempuan, Kok Bisa?

Kompas.com - 17/01/2020, 21:06 WIB
Direktur Utama PT BTPN Syariah (KOMPAS100: BTPS) Ratih Rachmawaty ketika menjadi pembicara di KOMPAS100 CEO Talk, Jumat (17/1/2020). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIADirektur Utama PT BTPN Syariah (KOMPAS100: BTPS) Ratih Rachmawaty ketika menjadi pembicara di KOMPAS100 CEO Talk, Jumat (17/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - PT BTPN Syariah (Tbk) (KOMPAS100: BTPS) tercatat saat ini memiliki 12.000 karyawan di seluruh Indonesia. Jumlah karyawan tersebut meliputi community officer dengan 97 persen di antaranya adalah perempuan.

Selain itu, perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa pada tahun 2018 tersebut juga tercatat memiliki sekitar 5,2 juta nasabah pembiayaan yang seluruhnya perempuan.

Direktur Utama BTPN Syariah Ratih Rachmawati menjelaskan, statistik jenis kelamin pegawai dan nasabah yang didominasi perempuan terjadi lantaran bisnis bank yang dipimpinnya fokus pada penyaluran pembiayaan ke kelompok pra sejahtera produktif. Pembiayaan tersebut disalurkan kepada ibu-ibu yang memang berkeinginan atau sudah memiliki usaha.

Baca juga: Waktu Tidur Cukup, Rahasia Dirut BTPN Syariah Jaga Kualitas Kerja

"Kami ada 12.000 karyawan di seluruh Indonesia. Termasuk community officer, 97 persennya perempuah. Kemudian 100 persen community officer ini lulusan SMK dan SMA. Ini statistik yang aneh," ujar Ratih ketika menjadi pembicara pada KOMPAS100 CEO Talk di Menara Kompas, Jumat (17/1/2020).

"Kemudian nasabahnya juga accumulatively 5,2 juta seluruhnya perempuan," ujar dia.

Ratih menjelaskan, pembiayaan keluarga pra sejahtera tersebut masuk ke dalam kategori ultra mikro dengan pinjaman mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 50 juta.

Segmen tersebut menurutnya telah dijajaki perusahaan sejak tahun 2009, kala itu BTPS masih berbentuk unit usaha syariah (UUS) yang tergabung dalam induk yakni PT Bank BTPN Tbk.

Baca juga: Kuartal III 2019, BTPN Syariah Cetak Laba Bersih Rp 976 Miliar

Dari 5,2 juta debitur tersebut, saat ini ada 3,5 juta yang masih aktif dan tersebar di 22 provinsi di Indonesia.

"Jadi untuk nasabah yang sudah tidak aktif itu antara mereka sudah migrasi atau memang sudah nggak butuh pinjaman," ujar Ratih.

Ratih pun mengakui, mengelola pembiayaan ultra mikro memang berisiko tinggi. Oleh karena itu, dia mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan menyalurkan pembiayaan secara berkelompok yang isinya adalah ibu-ibu dengan jumlah anggota lima hingga enam orang.

Sebab berdasarkan analisa perusahaan, debitur perempuan khususnya ibu rumah tangga punya tanggung jawab dan kemampuan mengelola keuangan yang lebih prima.

Uniknya, seluruh pendanaan pembiayaan tersebut, diperoleh dari nasabah dana pihak ketiga (DPK) perseroan yang jumlahnya hanya sebanyak 25.000 orang. "Kami satu-satunya bank yang fokus layani keluarga pra sejahtera, dengan pendanaan dari keluarga sejahtera," tuturnya.

Mayoritas pegawai perempuan

Ratih mengatakan, sebagian besar pegawai di perusahaannya perempuan karena untuk mengakomodir kebutuhan nasabah.

Karena segmen nasabah yang hampir seluruhnya ibu-ibu maka dibutuhkan pula tenaga kerja yang mampu membimbing dan memahami kebutuhan para nasabah tersebut.

Para community officer yang direkrut pun sebisa mungkin berdomisili di lokasi-lokasi tempat nasabah berasal. Biasanya mereka lulusan SMA atau SMK lokal yang dalam bekerja dipimpin oleh ketua tim yang lulusan universitas lokal pula.

Baca juga: Cara Meraih Kesuksesan bagi Milenial ala CEO BTPN

"Satu tim 5 sampai 6 orang, pemimpinnya biasanya D3 atau S1 local university, tapi punya kualitas. Pemimpin dan anggota tim either lulusan SMA atau SMK, dan harus perempuan juga. Karena ini anak-anak lokal harus bekerja melayani ibu-ibu pra sejahtera lokal," ujar dia.

Nantinya, community officer-lah yang akan menentukan apakah kelompok ibu-ibu yang terbentuk tersebut layak atau tidak untuk diberi pembiayaan. Selain itu, mereka juga bertanggung jawab untuk memberi pelatihan kepada ibu-ibu sebagai persyaratan pemberian kredit serta mengontrol pengembalian dana pembiayaan nasabah.

"Kami harus economically make sense in anything we do, karena kita listed di bursa," ujar Ratih.

"Kami membuka lapangan pekerjaan ini, dengan identitas bankir pemberdaya. Ini memberikan inner motivation," jelas dia.

Baca juga: BTPN Syariah Siapkan Bankir Pemberdaya Dampingi Nasabah Perempuan

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X