BPH Migas Sebut Biang Kerok Gas Industri Mahal Justru di Level Hulu

Kompas.com - 12/02/2020, 19:14 WIB
Kepala BPH Migas M. Fanshurullah Asa bersama Menteri ESDM Arifin Tasrif saat menjabarkan pencapaian kinerja 2019 dan program kerja 2020 di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (9/1/2029). DOK. Humas BPH MigasKepala BPH Migas M. Fanshurullah Asa bersama Menteri ESDM Arifin Tasrif saat menjabarkan pencapaian kinerja 2019 dan program kerja 2020 di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (9/1/2029).

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyebutkan, komposisi utama pembentuk harga gas untuk industri berada di proses produksi atau level hulu.

Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa mengatakan, harga gas industri yang dinilai masih mahal saat ini diakibatkan tingginya harga gas di level hulu. Padahal, harga gas di level ini berkontribusi hingga 70 persen dari total harga gas industri.

"Justru masalahnya di hulu itu kan ada strukturnya 70 persen di hulu. Justru yang kedua masalahnya distribusi sama niaga," ujarnya di Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Baca juga: Penurunan Harga Gas Industri Diharap Tak Matikan Industri Mid Stream Gas

Berdasarkan data yang dimiliki BPH Migas, harga gas di level hulu berada di rentang 3,40 hingga 8,24 dollar AS per juta british thermal unit (million british thermal unit/MMBTU).

Kemudian biaya distribusi memberikan sumbangsih sebesar 0,2 sampai 2 dollar AS per MMBTU dan biaya niaga 0,24 sampai 0,58 dollar AS per MMBTU untuk total harga gas industri.

Pria yang akrab disapa Ifan itu menegaskan bahwa biaya transmisi yang kewenangannya berada di bawahnya langsung sudah rendah. Dimana rentang biaya transmis sebesar 0,02 hingga 1,55 dollar AS per MMBTU.

"Tarif pengangkutan atau transmisi rata-rata 0,35 dollar AS (per MMBTU), sudah sangat efisien," katanya.

Baca juga: Mulan Jameela Bersuara soal Perpres Harga Gas, Dirut PGN Menjawab

Oleh karenanya, Ifan menekankan bahwa apabila harga gas industri ingin ditekan, maka perlu ada pemangkasan biaya baik di level hulu, distribusi, maupun niaga.

"Jadi poinnya harga gas bisa diturunkan justru di hulu mesti signifikan dipotong government, take-nya. Yang kedua di distribusi sama niaga," tuturnya.

Berbeda dengan Ifan, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto sebelumnya sempat mengatakan, harga gas di hulu atau level upstream level upstream masih relatif rendah. Rata-rata harga gas mencapai 5,4 dollar AS MMBTU.

"Ini tentu saja bervariasi. Kalau onshore sekitar 4 dollar AS (per MMBTU). Kemudian yang di offshore agak lebih tinggi sedikit," ujarnya, di Kantor SKK Migas, Jakarta, Kamis (8/1/2020).

Baca juga: Menteri ESDM Sebut Komponen Biaya Pendongkrak Harga Gas

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X