Pernah Dikunjungi Jokowi, Nelayan Muaragembong Masih Susah Beli BBM

Kompas.com - 14/02/2020, 17:00 WIB
Presiden Joko Widodo mengendarai motor trail Kawasaki KLX 150 meninjau lokasi tambak udang dan ikan bandeng sebagai bagian dari program perhutanan sosial di Kecamatan Muara Gembong, Bekasi, Rabu (1/11/2017). Terlihat ada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mendampingi di belakangnya. Fabian Januarius KuwadoPresiden Joko Widodo mengendarai motor trail Kawasaki KLX 150 meninjau lokasi tambak udang dan ikan bandeng sebagai bagian dari program perhutanan sosial di Kecamatan Muara Gembong, Bekasi, Rabu (1/11/2017). Terlihat ada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mendampingi di belakangnya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah gencar-gencarnya melakukan program BBM Satu Harga di daerah-daerah pelosok Indonesia, nyatanya masih banyak warga di Pulau Jawa, bahkan daerah yang sangat dekat dengan Jakarta, masih harus membeli BBM eceran dengan harga lebih mahal.

Di Muaragembong, Kabupaten Bekasi, nelayan pesisir Pantai Utara ini masih saja kesulitan membeli BBM jenis solar. Akibatnya, mereka kudu membeli pasokan Biosolar dari SPBU di Karawang atau Jakarta.

Camat Muaragembong, Lukman Hakim, mengatakan kebutuhan SPBU sudah sangat mendesak dibangun di wilayahnya. Apalagi, sekitar 70 persen warganya berprofesi sebagai nelayan.

"Iya sampai saat ini di sini belum ada SPBU. Sebenarnya keluhan ini sudah lama disampaikan nelayan ke kami. Jadi kalau ditanya seberapa penting ya penting banget ada SPBU," kata Lukman, seperti dikutip dari Antara, Jumat (14/2/2020).

Baca juga: Selain BBM Satu Harga, Berikut Capaian BPH Migas Pada 2019

"Biasanya nelayan juga mendapat kebutuhan BBM dari Tanjung Priok, Jakarta Utara melalui jalur laut," tambahnya. 

Selain nelayan, lanjut Lukman, harga eceran BBM yang lebih mahal juga dirasakan pemilik kendaraan bermotor.

Ini karena untuk mendapatkan BBM, lokasi SPBU terdekat berada di Cabangbungin yang lokasinya berjarak 25 kilometer dari Muaragembong.

Sekretaris Desa Pantai Bahagia Kecamatan Muaragembong Kurtubi mengatakan, di wilayahnya saja saat ini tercatat ada 300 perahu nelayan yang menggantungkan hidup dari melaut.

Ratusan kepala keluarga nelayan ini sangat membutuhkan harga BBM yang terjangkau. Setidaknya, dalam sehari mereka membutuhkan suplai 2.000 liter solar. Itu belum menghitung kebutuhan bensin untuk kendaraan pribadi.

Baca juga: 1.600 Kecamatan Belum Ada Penyalur BBM Satu Harga, Ini Permintaan BPH Migas

"Ribuan liter Biosolar itu dengan asumsi satu perahu membutuhkan 20 sampai 30 liter Biosolar. Itu untuk hidup satu malam dengan jarak pencarian ikan sekitar satu mil (1,6 kilometer)," katanya.

Hingga saat ini nelayan yang ingin melaut terpaksa harus membeli BBM eceran yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan di SPBU.

" Nelayan beli (Biosolar) di eceran Rp7.500 sedangkan harga Biosolar di SPBU Rp5.500. Kebutuhan BBM kita lebih dari 1.000 liter per hari juga untuk para nelayan perahu kecil," katanya.

Padahal, selain lokasinya sangat dekat dengan Jakarta, Muaragembong pernah mendapatkan kunjungan langsung dari Presiden Jokowi. Namun untuk SPBU, sampai hari ini belum juga terbangun.

"Bukan hanya nelayan. Kita di pemerintah juga sudah berupaya memfasilitasi hal tersebut. Tapi sampai saat ini belum ada kabar baik," ujarnya.

Baca juga: Pemerintah Targetkan Bangun 500 Penyalur BBM Satu Harga hingga 2024

 

 



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X