Alasan Penginapan Ini "Nekat" Tetap Buka di Wuhan meski Corona Mewabah

Kompas.com - 19/02/2020, 11:32 WIB
Seorang perempuan warga kota Wuhan, China, mengenakan masker untuk menghindari terinfeksi virus corona yang mematikan saat berbelanja di sebuah pasar di kota Wuhan, Minggu (26/2/2020). AFP/HECTOR RETAMALSeorang perempuan warga kota Wuhan, China, mengenakan masker untuk menghindari terinfeksi virus corona yang mematikan saat berbelanja di sebuah pasar di kota Wuhan, Minggu (26/2/2020).
Penulis Kiki Safitri
|

KOMPAS.com - Merebaknya virus corona menyebabkan toko-toko, pabrik-pabrik, dan hotel-hotel tutup untuk mengantisipasi mewabahnya virus corona. Namun, perusahaan manajemen penginapan OYO berjuang memastikan pelayanan kepada para konsumennya.

"Kami berusaha menjaga sebanyak mungkin hotel kami tetap terbuka, termasuk di Wuhan dan di Hubei," kata CEO dan pendiri OYO, Ritesh Agarwal, melansir CNBC, Rabu (19/2/2020).

OYO saat ini mengoperasikan manajeman penginapan sewaan dan waralaba sebanyak 9.000 hotel di China. Jumlah ini menjadikan OYO sebagai salah satu bisnis manajemen penginapan terbesar kedua di negara China.

Baca juga: Banjir Baja Impor Asal China, Korporasi Dalam Negeri Kelimpungan

Dalam dua pekan ini, penginapan OYO juga muncul di sekitar rumah sakit Wuhan, yang baru-baru ini menjadi berita utama.

Adapun tujuan penginapan OYO tetap buka untuk memudahkan penginapan para dokter yang bekerja dekat rumah sakit Wuhan dan orang-orang yang tak bisa keluar provinsi karena pembatasan perjalanan.

"Mereka harus memastikan (buka) karena kami fokus pada lokasi dan kota yang lebih menguntungkan," kata Agarwal.

Baca juga: Omnibus Law, Batas Minimal Kepemilikan Pesawat Maskapai Dihapus?

Di sisi lain, baru-baru ini perusahaan mengumumkan upaya restrukturisasi yang mencakup PHK di China, India, dan AS. Namun, Agarwal menuturkan, masih terlalu dini untuk mengatakan bagaimana virus akan berdampak pada bisnis untuk OYO.

OYO didirikan pada tahun 2013 oleh Agarwal ketika ia berusia 19 tahun. OYO telah menjadi jaringan hotel yang tumbuh tercepat dan terbesar kedua di dunia.

Perusahaan ini mengoperasikan lebih dari 23.000 hotel di lebih dari 800 kota di 60 negara. Namun, perusahaan baru-baru ini melaporkan bahwa kerugian tahunannya melebar menjadi 335 juta dollar AS.

OYO juga menghadapi tuduhan bahwa perusahaan meningkatkan tingkat hunian dan tidak membayar beberapa hotel yang bekerja dengannya.

Pendanaan OYO didukung oleh SoftBank's Vision Fund, megafund senilai 100 miliar dollar AS. Ada juga perusahaan yang berinvestasi di OYO, seperti Uber, SoFi, dan WeWork-parent The We Company.

Baca juga: [POPULER MONEY] Mengenang Ashraf Sinclair dan Kegigihannya di Dunia Bisnis

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X