Kompas.com - 06/03/2020, 16:42 WIB
Ilustrasi daging sapi KOMPAS.com/FIRMAN TAUFIQURRAHMANIlustrasi daging sapi

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa bulan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri pada Mei 2020, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) memastikan bahwa stok pangan asal hewan yang terdiri dari daging ayam dan telur ayam ras serta daging sapi, dalam kondisi aman.

Menurut dia, berdasarkan hasil Survei Konsumsi Bahan Pokok (VKBP) tahun 2017 dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2019 yang dilaksanakan BPS, konsumsi daging ayam ras adalah sebesar 12,79 kg per kapita per tahun.

Kebutuhan daging ayam ras diperkirakan sebesar 1.450.715 ton. Sementara berdasarkan potensi produksi daging ayam ras diperkirakan sebesar 1.721.609 ton.

"Sampai bulan Mei 2020, diperkirakan terdapat surplus daging ayam ras sebesar 270.894 ton, atau rata-rata surplus sebesar 54.179 ton per bulan," jelas Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita melalui keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (6/3/2020).

Baca juga: Stok Beras Bulog 1,7 Juta Ton, Buwas Jamin Ramadhan dan Idul Fitri Aman

Terkait telur ayam ras, untuk konsumsi telur ayam ras mencapai 18,16 kg per kapita per tahun. Kebutuhan telur ayam ras sampai Lebaran Idul Fitri diperkirakan sebesar 2.059.735 ton. Sedangkan potensi produksi telur ayam ras diperkirakan sebesar 2.084.641 ton.

"Hal ini berarti masih ada surplus sebesar 24.906 ton atau 4.981 ton per bulan,” ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, konsumsi daging sapi, kerbau oleh masyarakat sebesar 2,66 kg per kapita tiap tahun. Kebutuhan daging sapi atau kerbau hingga lebaran diperkirakan sebesar 302.300 ton.

Adapun ketersediaan daging sapi atau kerbau sampai Mei 2020 berdasarkan produksi dalam negeri sebesar 165.478 ton.

Berdasarkan data tersebut, masih diperlukan tambahan sebanyak 136.822 ton yang akan dipenuhi melalui impor daging sapi atau kerbau sebesar 103.043 ton dan sapi bakalan 252.810 ekor atau setara 56.659 ton daging. Hal tersebut berdasarkan kondisi realisasi impor per 5 Maret 2020.

"Artinya sampai Mei 2020, kita akan ada akumulasi surplus daging sebanyak 22.880 ton," katanya.

Baca juga: Manfaatkan Penetrasi Ponsel untuk Raih Cuan di Ramadan

Ketut berharap, surplus produksi produk pangan asal hewan ini dapat dikelola menjadi sumber devisa melalui ekspor ataupun diolah menjadi produk olahan untuk menambah nilai jual. “Dengan data-data produksi dan konsumsi tersebut, saya yakin sampai Mei 2020 ini, stok pangan asal hewan mencukupi," ujarnya.

Menurut Ketut, secara umum, Indonesia sudah mandiri dalam penyediaan protein hewani dalam negeri. Alasannya, kebutuhan daging ayam dan telur ayam ras sepenuhnya merupakan produksi dalam negeri, bahkan masih ada surplus.

Namun demikian, khusus untuk daging sapi, ketersediaannya masih memerlukan dukungan impor. Ketut meyakini bahwa dengan program peningkatan produksi dan produktivitas sapi dan kerbau yang dilaksanakan pemerintah saat ini, swasembada daging sapi dapat tercapai pada tahun 2026.

"Kami harapkan dengan ketersediaan stok pangan asal hewan yang cukup ini, harga semestinya tetap stabil sampai selesainya HBKN nanti, dan konsumen bisa tenang,” sebutnya.

Baca juga: DPR Ingatkan Pemerintah Siapkan Stok Pangan Jelang Ramadan



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.