Mimpi Setengah Abad Indonesia Bisa Swasembada Gula

Kompas.com - 25/05/2020, 15:06 WIB
Presiden Soeharto. Gambar diambil pada 15 Januari 1998. KOMPAS/JB SURATNOPresiden Soeharto. Gambar diambil pada 15 Januari 1998.

JAKARTA, KOMPAS.com - Alih-alih mewujudkan mimpi swasembada gula yang digaungkan sejak Orde Baru, Indonesia malah terus menerus jadi importir gula. Tren impornya bahkan cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun. 

Jangankan mengurangi impor, polemik gula yang rutin setiap tahun saja sulit teratasi. Pasokannya yang seringkali langka, hingga harganya yang melampung tinggi di tingkat pedagang.

Tahun 2014 impor gula tercatat sebesar 2,93 juta ton, lalu pada tahun 2015 naik menjadi 3,36 juta ton. Tren kenaikan impor terus berlanjut yakni tahun 2016 impornya sebesar 4,74 juta ton, tahun 2017 sebesar 4,47 juta ton, tahun 2018 sebesar 5,02 juta ton, dan 2019 sebesar 4,09 juta ton.

Diberitakan Harian Kompas, 17 Februari 1972, Direktur Jenderal Perkebunan Brigjen Muluk Lubis menyampaikan target swasembada gula 1980. Dengan perkiraan penduduk 150 juta jiwa dan rata-rata konsumsi 10 kilogram per kapita setahun, Indonesia menargetkan produksi gula 1,5 juta ton.

Baca juga: Ironi Gula, Eksportir era Hindia Belanda, Jadi Importir Usai Merdeka

Sekitar 3,5 bulan kemudian, Menteri Pertanian Prof Tojib Hadiwidjaja menyampaikan target yang lebih optimistis, Indonesia akan mencapai swasembada dengan produksi 1,08 juta ton tahun 1974.

Enam tahun lebih cepat dari rencana semula. Sebanyak 80.000 ton di antaranya bahkan direncanakan akan diekspor. Dua tahun kemudian, rencana ekspor gula tak terpenuhi.

Produksi gula 1974 diklaim mencapai 1,08 juta ton. Namun, target swasembada menghadapi tantangan peningkatan konsumsi. Ketika itu, konsumsi gula per kapita disebut telah mencapai 10 kg per tahun atau jauh dari perkiraan semula yang 6,5 kg per tahun.

Empat tahun kemudian, cita-cita swasembada belum juga tercapai. Menteri Pertanian Prof Ir Soedarsono Hadisapoetro mengakui bahwa swasembada gula menjadi beban pemerintah selama bertahun-tahun, tetapi belum ada jalan keluar.

Baca juga: Harga Gula Bisa di Bawah Rp 10.000 Per Kg Tanpa Impor, asalkan...

Pemerintah pun berencana mengembangkan dan mengefisienkan pabrik gula. Pada 1990, hasrat swasembada kembali menggelora.

"Rencana Indonesia berswasembada gula pada 1992 tidak bisa ditawar lagi,” kata Direktur Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Prof Dr Ir Goeswono Soepardi, kepada wartawan, 11 Desember 1990.

Tiga tahun kemudian, harapan itu belum terwujud. Pada 2002, pemerintah kembali mencanangkan swasembada gula tahun 2007, lalu diundur jadi 2008, kemudian direvisi jadi 2009 dan hanya untuk gula konsumsi masyarakat, tak termasuk gula untuk industri.

Selama kurun 2010-2020, mimpi mengejar swasembada gula juga tidak reda. Namun, upaya mewujudkannya tidak semudah mengalkulasi produksi di atas kertas.

Raja gula di zaman Belanda

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Indonesia, Soemitro Samadikoen, mengatakan masalah menahun gula sebenarnya cukup ironi di Indonesia. Mengingat negara ini pernah jadi eksportir sekaligus produsen gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba di era Hindia Belanda.

Setelah merdeka, Indonesia mewarisi 179 pabrik gula (PG) dari swasta Belanda yang kemudian dikelola sejumlah BUMN perkebunan. Masalah mulai muncul ketika konsumsi gula semakin meningkat, namun tidak diimbangi dengan investasi pabrik gula baru maupun revitalisasi PG lama peninggalan Belanda.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X