Kompas.com - 10/06/2020, 14:06 WIB
Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja memberikan keterangan pers kepada awak media, di Menara BCA, Jakarta, Selasa (3/12/2019). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIDirektur Utama BCA Jahja Setiaatmadja memberikan keterangan pers kepada awak media, di Menara BCA, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menceritakan bedanya krisis 1998, krisis tahun 2008, dengan krisis pandemi Covid-19.

Dia menilai, krisis pandemi Covid-19 layaknya penyakit stroke. Pemulihan penyakit stroke cukup memakan waktu, begitupun dengan kondisi ekonomi yang terhantam Covid-19.

Tapi di krisis Covid-19, semua pelaku ekonomi lebih baik ketimbang krisis tahun 1998. Jahja bilang, kasus 1998 memang membawa pelajaran berarti bagi seluruh pelaku pasar, entah itu masyarakat, perbankan, maupun eksportir.

Baca juga: BCA Rogoh Rp 500 Miliar untuk Akuisisi Rabobank

"Kita bersyukur tahun 1998 itu mempersiapkan perbankan dan para pengusaha, memberikan suatu lesson yang sangat penting," kata Jahja dalam konferensi video, Rabu (10/6/2020).

Pelajaran untuk masyarakat adalah ketika terjadi rush money besar-besaran karena kepanikan masyarakat tahun 1998.

Masyarakat yang memindahkan uangnya ke bank besar berujung menarik dana hingga Dana Pihak Ketiga (DPK) terkuras.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pada awal 1998 terjadi gejolak Politik. Bank besar dan bank swasta, termasuk BCA terkena rumor masalah politik. Orang-orang yang tadinya memindahkan dana ke bank besar, langsung panik. Lebih dari 35 persen DPK kita dikuras," cerita Jahja.

Baca juga: Cara Buka Rekening Baru BCA lewat Mobile Banking

Dari fenomena itu, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 10 Tahun 1998 yang mengamanatkan pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai pelaksana penjaminan dana masyarakat.

"Masyarakat yang dananya Rp 2 miliar ke bawah, harusnya merasa jauh lebih tenang (karena ada penjaminan). Ini lesson (pelajaran) untuk masyarakat," ungkap Jahja.

Sementara pelajaran untuk perbankan adalah lebih hati-hati dalam setiap mengambil keputusan, agar manajemen risiko bisa terjaga saat krisis tiba-tiba menyerang.

"Dulu saya ingat, bank besar portofolio pinjaman dan dana dollar itu 40-50 persen dari BUKU. Contoh sekarang BCA, portofolio dollar hanya berani 8 persen, dulu 30 persen. Sampai sebegitu konservatifnya untuk menjaga things happen kita proteksi dari segi risk management," pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.