"Di Juni 2020 Ada Tanda-tanda Secercah Harapan, Cahaya yang Baik bagi Ekonomi Kita..."

Kompas.com - 08/07/2020, 18:07 WIB
Pedagang elektronik menunggu calon pembeli di jembatan penghubung Pasar Glodok, Jakarta, Sabtu (4/7/2020). Meski pihak pengelola menutup sementara Pasar Glodok selama tiga hari pada 2-4 Juli 2020 guna mencegah penyebaran COVID-19, masih banyak sejumlah toko yang buka dan melayani pembelian secara langsung.  ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/hp. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJAPedagang elektronik menunggu calon pembeli di jembatan penghubung Pasar Glodok, Jakarta, Sabtu (4/7/2020). Meski pihak pengelola menutup sementara Pasar Glodok selama tiga hari pada 2-4 Juli 2020 guna mencegah penyebaran COVID-19, masih banyak sejumlah toko yang buka dan melayani pembelian secara langsung. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/hp.

JAKARTA, KOMPAS.com -  Setelah sepanjang paruh semester I tahun 2020 ekonomi dalam negeri melemah akibat pandemi Covid-19, Pemerintah meyakini pemulihan ekonomi Indonesia akan dimulai pada kuartal III-2020.

Penyebaran virus corona memang membuat ekonomi dunia terpukul, tak terkecuali Indonesia. Sebagian besar aktivitas ekonomi berhenti akibat kebijakan penutupan wilayah untuk menekan penularan virus.

Alhasil, pada kuartal I-2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 2,97 persen, jadi yang terendah sejak 2001. Bahkan, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 diperkirakan kontraksi 3,1 persen.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Uni Eropa Diprediksi Minus 8,3 Persen Tahun Ini

Meski demikian, Deputi I Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, ada angin segar ekonomi akan pulih di semester terakhir tahun ini. Hal tersebut tercermin dari beberapa indikator yakni PMI manufaktur Indonesia, indeks keyakinan konsumen, dan inflasi.

"Tapi ada hal yang menarik, di Juni 2020 ada tanda-tanda secercah harapan, cahaya yang baik bagi ekonomi kita, ditunjukkan oleh leading indicator," ujarnya dalam webinar BNI: Percepatan Sektor Ekonomi Pemenang Fase New Normal, Rabu (8/7/2020).

Ia menjelaskan, pada Juni 2020 PMI manufaktur Indonesia meningkat ke 39,1. Jauh lebih baik dari posisi April 2020 yang anjlok ke 27,5 dan Mei 2020 yang sebesar 28,6.

Begitupula dengan indeks keyakinan konsumen yang bergerak naik ke 83,8, membaik dari posisi di Mei 2020 yang berada di 77,8. Iskandar bilang, ini tak lepas dari penerapan kenormalan baru untuk kembali mengaktifkan perekonomian.

"Mei itu keyakinan konsumsen terhadap ekonomi Indonesa anjlok, tapi secara bertahap di Juni mulai meningkat," kata dia.

Baca juga: Gara-gara Corona, PT KAI Bakal Tekor Rp 3,44 Triliun

Penerapan kenormalan baru juga berimbas pada inflasi. Ekonomi yang mulai pulih meningkatkan permintaan sehingga berdampak pada kenaikan harga komditas. Menurut dia, ini terlihat dari kenaikan harga daging dan telur ayam ras.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Juni 2020 terjadi inflasi 0,18 persen. Daging ayam ras menjadi komoditas dominan yang memberi andil pada inflasi sebesar 0,14 persen, sedangkan telur ayam ras sebesar 0,04 persen.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X