Mengenal Bedanya Resesi dan Depresi, Lebih Parah Mana?

Kompas.com - 06/08/2020, 15:38 WIB

Lantas, apa bedanya dengan depresi?

Berdasarkan publikasi Dana Moneter Internasional (IMF), tidak ada definisi formal tentang depresi. Tapi depresi ekonomi bisa diartikan sebagai resesi yang sangat parah, di mana terjadi penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) lebih dari 10 persen.

Mengutip Business Insider, depresi ekonomi biasanya dipahami sebagai kemerosotan ekstrem dalam aktifitas ekonomi yang berlangsung selama beberapa tahun atau dalam waktu yang lama.

Biro Riset Ekonomi Nasional (NBER) mencatat, para ekonom berbeda dalam periode waktu yang menunjukkan depresi.

Baca juga: Makin Santer, Apa Sebetulnya Resesi Itu?

Beberapa ahli percaya depresi hanya berlangsung ketika aktivitas ekonomi menurun. Sedangkan pemahaman yang lebih umum adalah depresi meluas sampai aktifitas ekonomi kembali mendekati level normal.

Perbedaan resesi dan depresi

Resesi dan depresi memiliki indikator dan penyebab yang serupa, tetapi perbedaan terbesar bisa dilihat dari tingkat keparahan, durasi, dan dampak keseluruhan.

Depresi berlangsung selama bertahun-tahun, bukan berbulan-bulan, dan biasanya menyebabkan tingkat pengangguran melonjak dengan penurunan PDB yang tajam.

Resesi sering kali terbatas pada satu negara, sedangkan depresi biasanya cukup parah dan berdampak pada perdagangan global.

Great Depression

Amerika Serikat pernah mengalami masa depresi ekonomi pada tahun 1930 yang disebut dengan Great Depression/Depresi Hebat. Depresi Hebat adalah salah satu kemerosotan ekonomi paling parah dalam sejarah yang berlangsung dari 1929-1939.

Baca juga: Hadapi Ancaman Resesi, Ini yang Perlu Dilakukan Masyarakat

Depresi Hebat dimulai di Amerika pada tahun 1929 sebagai resesi sebelum meluas secara global, terutama di Eropa.

Seperti halnya krisis ekonomi jangka panjang, tidak hanya ada satu peristiwa yang menyebabkan Great Depression, melainkan ada serangkaian peristiwa termasuk jatuhnya pasar saham pada tahun 1929 dan kekeringan yang parah di Dust Bowl pada tahun 1930-an.

Ekonomi AS sendiri sudah mengalami tren menurun selama musim panas sebelum kehancuran, dengan pengangguran meningkat dan manufaktur menurun, yang akhirnya membuat saham dinilai terlalu tinggi.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X