Paruh Pertama 2020, Kapasitas Pembangkit Listrik EBT Capai 10,4 GW

Kompas.com - 19/08/2020, 17:00 WIB
Pembangkit Listrik Energi Baru Terbarukan Biomassa (PLTBm) milik PT PT Rezeki Perkasa Sejahtera Lestari sebesar 10 Megawatt (MW). dok PLNPembangkit Listrik Energi Baru Terbarukan Biomassa (PLTBm) milik PT PT Rezeki Perkasa Sejahtera Lestari sebesar 10 Megawatt (MW).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM) tengah fokus mengembangkan pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan ( EBT).

Hal tersebut dilakukan guna menggenjot porsi bauran EBT terhadap energi primer nasional.

Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukkan Dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Ida Nuryatin Finahari, mengatakan, sampai dengan semester I-2020, kapasitas pembangkit listrik EBT terpasang mencapai 10,4 giga watt (GW).

Realisasi tersebut utamanya didorong oleh pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi.

"Indonesia telah memiliki 10,4 GW pembangkit listrik terpasang berbasis EBT terhitung hingga semester pertama tahun 2020. Jumlah tersebut didominasi oleh energi hidro dengan komposisi sekitar 6,07 GW dan selanjutnya diikuti oleh energi panas bumi sebesar 2,13 GW," tutur Ida, dalam diskusi virtual, Rabu (19/8/2020).

Baca juga: PLN Siap Ganti Pembangkit Diesel Berusia di Atas 15 Tahun ke EBT

Dengan realisasi tersebut, maka masih terdapat jarak yang signifikan dengan target yang dicanangkan oleh pemerintah.

Pemerintah menargetkan pada tahun 2025, bauran EBT dapat mencapai 23 persen dari total energi primer nasional, atau setara 19,9 GW.

Oleh karenanya, Ida menekankan, pemerintah tengah berupaya menggenjot investasi pembangkit listrik EBT.

"Pemerintah memperbaiki skema harga jual, regulasi dan pemberian insentif sehingga diharapkan investor dapat tertarik menanamkan investasinya di sektor energi yang ramah lingkungan seperti panas bumi, air dan angin," tuturnya.

Selain untuk menggenjot bauran terhadap energi primer, pengembangan pembangkit listrik EBT dilakukan untuk menekan angka produksi karbon dioksida atau CO2.

Pembangkit listrik EBT ditargetkan dapat berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 156,6 juta ton CO2 atau 49,8 persen dari total aksi mitigasi sektor energi.

"Dengan kebutuhan investasi sebesar Rp 1.690 triliun," ucapnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X