Meski Resesi Membayangi, Indikator Perekonomian Ada yang Membaik

Kompas.com - 23/09/2020, 16:18 WIB
Ilustrasi resesi shutterstock.comIlustrasi resesi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah meyakini pertumbuhan ekonomi pada kuartal III ini akan kembali negatif. Artinya, Indonesia bakal mengalami resesi lantaran dalam kuartal berturut-turut mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif.

Sebab pada kuartal II lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 5,32 persen.

Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) Raden Pardede mengungkapkan kinerja perekonomian Indonesia telah mencapai titik terendah pada kuartal II lalu.

 

Baca juga: Menristek: Lihat Potensi Resesi, Tinggal Tunggu Pengumuman...

Meski kembali tumbuh negatif pada kuartal III, beberapa indikator perekonomian sudah menunjukkan terjadinya pemulihan.

"Itu pegangan yang bisa kita lihat, artinya di kuartal II kita sudah hit the bottom. Kuartal III nanti kita akan lihat datanya sesudah dirilis BPS pada Oktober nanti tapi yang jelas lebih baik dari kuartal II," ujar Raden dalam diskusi virtual, Rabu (23/9/2020).

"Dan jelas kita tahu tidak akan lebih baik dari kuartal III tahun lalu," ujar dia.

Raden mengungkapkan, beberapa indikator yang menunjukkan adanya pemulihan seperti kenaikan indeks manufaktur atau Purchasing Managers's Index (PMI) Indonesia di level 50,8 pada Agustus 2020.

"Apakah itu PMI, apakah itu data-data konsumsi, kemudian data ritel, data penjualan, itu semua di kuartal III kita lihat jauh lebih baik dari kuartal II. Namun dibandingkan tahun lalu posisi kuartal III masih lebih rendah," jelasnya.

Selain itu indikator lain seperti pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, dan yield surat utang negara (SUN) yang secara bertahap menunjukkan perbaikan.

Baca juga: Sinyal Kuat Resesi Ekonomi Indonesia

"Apakah sudah pulih dari semula baik dari sisi market cap maupun indeks? belum. Tapi rupiah sempat hampir Rp 16.500 per dollar AS waktu itu, sekarang di posisi Rp 14.000an, pernah juga yield SUN mencapai 8,5 persen, sekarang di level sekitar 7 atau 6,7 persen, ada perbaikan di situ," ujar dia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan pihaknya kembali mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III tahun ini. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III akan berada di kisaran minus 2,9 persen hingga minus 1,1 persen.

Angka tersebut lebih dalam jika dibandingkan dengan proyeksi awalnya, yakni sebesar minus 2,1 persen hingga 0 persen.

Adapun keseluruhan, pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun akan berada di kisaran minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen. Sebelumnya, proyeksi Sri Mulyani berada di kisaran minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen.

"Kementerian Keuangan merevisi forecast untuk September, sebelumnya untuk tahun ini minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen. Forecast terbaru September untuk 2020 di minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa secara virtual, Selasa (22/9/2020).



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X