Masyarakat Enggan Belanja, Jumlah Tabungan di Atas Rp 5 Miliar Melesat

Kompas.com - 13/10/2020, 15:36 WIB
Ilustrasi gaji, upah, rupiah ShutterstockIlustrasi gaji, upah, rupiah

JAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah tabungan masyarakat kian bertambah. Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah dana pihak ketiga (DPK) yang dikelola perbankan selama tahun 2020 tumbuh 11,64 persen (yoy) jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya tumbuh 8,5 persen (yoy).

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk (Persero) Andry Asmoro menjelaskan, di tengah ketidakpastian pandemi Covid-19, masyarakat kelas menengah ke atas kian enggan membelanjakan uang mereka.

Hal itu juga terlihat dari jumlah tabungan senilai di atas tumbuh mencapai Rp 373 triliun sepanjang Januari hingga Agustus 2020. Angka tersebut meningkat tiga kali lipat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni hanya Rp 115 triliun.

Baca juga: Menaker: Subsidi Gaji Bisa Dongkrak Konsumsi hingga 0,7 Persen

"Kalau kita lihat Agustus ini penabung di atas Rp 5 miliar itu sudah naik Rp 373 triliun year to daet. Kalau kita bandingkan tahun lalu hanya Rp 115 triliun. Kalau bandingkan full year 2018 dan 2019, itu Rp 130 triliun dan Rp 162 triliun," jelasnya dalam webinar bincang APBN 2021, Selasa (13/10/2020).

"Sampai Agustus kelompok [penabung] di atas Rp 5 Miliar ini campur, masyarakat dan institusi menengah atas, ini meningkat sangat tinggi," kata Andry melanjutkan.

Andry mengatakan pandemi covid-19 membuat masyarakat lebih memilih untuk berjaga-jaga atau menabung di bank, terutama bagi mereka yang merupakan masyarakat kelas menengah atas. Padahal kelas menengah atas seharusnya bisa menopang perekonomian dengan cara berbelanja atau spending.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sayangnya, kelas menengah memiliki masalah dengan kepercayaan dan cenderung lebih memilih untuk tinggal di rumah dan tidak berpergian, dan memilih untuk menyimpan uangnya di bank.

"They have the money, tapi masalah confidence saja. Mereka lebih suka di rumah," ujar dia.

Indikator lain yang menunjukkan lesunya tingkat konsumsi masyarakat menengah bawah yakni dari jumlah penabung per Agustus 2020. Berdasarkan catatannya, jumlah tabungan di atas Rp 5 miliar telah mencapai Rp 148 triliun, naik 30,97 persen jika dibandingkan pada Juni 2020.

Untuk itu, menurutnya tahun depan menjadi penting bagi pemerintah untuk menyembangkan dan mendorong permintaan untuk menjaga kinerja perekonomian.

"Dengan kondisi seperti itu, memang perlu ada penyeimbang untuk mendorong permintaan dan competitiveness. Ini perlu diperhatikan di 2021 nanti," ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[TREN WISATA KOMPASIANA] Danau Kelimutu | Pesona Kuil Shinto 1000 Torii | Menjelajah Kota Alexandria

[TREN WISATA KOMPASIANA] Danau Kelimutu | Pesona Kuil Shinto 1000 Torii | Menjelajah Kota Alexandria

Rilis
[KURASI KOMPASIANA] Ide Datang di Kamar Mandi | Mengapa Berpikir Logis Itu Penting?

[KURASI KOMPASIANA] Ide Datang di Kamar Mandi | Mengapa Berpikir Logis Itu Penting?

Rilis
Rincian Iuran BPJS Kesehatan Terbaru 2021

Rincian Iuran BPJS Kesehatan Terbaru 2021

Spend Smart
Mencantumkan Ikut Seminar dalam CV Lamaran Kerja, Pentingkah?

Mencantumkan Ikut Seminar dalam CV Lamaran Kerja, Pentingkah?

Work Smart
[TREN HUMANIORA KOMPASIANA] Anak adalah Point of References | Gapyear: Stigma, Doa, dan Cerita

[TREN HUMANIORA KOMPASIANA] Anak adalah Point of References | Gapyear: Stigma, Doa, dan Cerita

Rilis
Ini Susunan Direksi dan Komisaris Bank KB Bukopin yang Baru

Ini Susunan Direksi dan Komisaris Bank KB Bukopin yang Baru

Whats New
BKN Minta Calon Pelamar CPNS dan PPPK 2021 untuk Bersabar, Kenapa?

BKN Minta Calon Pelamar CPNS dan PPPK 2021 untuk Bersabar, Kenapa?

Whats New
Bangun Hunian di Jakarta dan Bogor, Adhi Commuter Properti Gandeng Sarana Jaya

Bangun Hunian di Jakarta dan Bogor, Adhi Commuter Properti Gandeng Sarana Jaya

Rilis
[KURASI KOMPASIANA] Pencopet di Angkutan Umum, Ini Cara Mengatasi dan Menghindarinya! | Modus Operandi Maling Perlente

[KURASI KOMPASIANA] Pencopet di Angkutan Umum, Ini Cara Mengatasi dan Menghindarinya! | Modus Operandi Maling Perlente

Rilis
Pendapatan Induk Usaha TikTok Melejit 111 Persen di Tahun 2020

Pendapatan Induk Usaha TikTok Melejit 111 Persen di Tahun 2020

Whats New
Gappri: Revisi PP Tembakau Perburuk Kondisi Industri Rokok

Gappri: Revisi PP Tembakau Perburuk Kondisi Industri Rokok

Whats New
Kini Pemilik Asuransi AXA Mandiri Bisa Konsultasi Kesehatan Gratis

Kini Pemilik Asuransi AXA Mandiri Bisa Konsultasi Kesehatan Gratis

Whats New
Prudential Indonesia Perluas Pemasaran Online Produk Asuransi

Prudential Indonesia Perluas Pemasaran Online Produk Asuransi

Rilis
[KURASI KOMPASIANA] Tip Aman Beli Barang Elektronik Secara Online | COD Tidak Semudah Kedengarannya

[KURASI KOMPASIANA] Tip Aman Beli Barang Elektronik Secara Online | COD Tidak Semudah Kedengarannya

Rilis
Aset Kripto Berpeluang Tumbuh Subur di Indonesia

Aset Kripto Berpeluang Tumbuh Subur di Indonesia

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X