Akumindo: Ada 30an Juta UMKM Rontok Selama Pandemi karena Tak Mau Beralih ke Digital

Kompas.com - 26/10/2020, 20:57 WIB
Sejumlah pekerja usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, membuat kue, Minggu (13/9/2020). KOMPAS/PRIYOMBODOSejumlah pekerja usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, membuat kue, Minggu (13/9/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) M. Ikhsan Ingratubun mengatakan, kurang berkembangnya UMKM disebabkan karena pelaku yang berkecimpung dalam dunia usaha tersebut rata-rata berusia lebih dari 40an tahun.

Padahal, di masa pandemi ini dibutuhkan kelihaian yakni peralihan pemasaran ke dunia digital. Sayangnya, pada usia tersebut pelaku enggan mau mempelajari penjualan melalui teknologi.

"Sedangkan yang sudah 40 tahun ke atas, kalau dengan penjualan melalui digital itu memang agak ribet dan ogah. Apalagi kalau enggak mau belajar, ya jadi itu menjadi kendala memang. Kalau yang 30 tahun ke bawah itu semangat untuk melakukan penjualan lewat online," katanya dalam webinar daring 1001 Cara UMKM Menjadi Juara, Senin (26/10/2020).

Baca juga: Akumindo: Suka Tidak Suka, UMKM Harus Masuk ke Dunia Digital

Menurut catatan Akumindo, hingga kini terdapat 30an juta pelaku UMKM yang rontok akibat pandemi Covid-19.

"Pandemi ini memang ada sekitar 30 juta UMKM ini rontok ya. Karena yang dibutuhkan oleh UMKM adalah iklim usaha atau kebijakan usaha yang sehatm manakala terjadi yang namanya lockdown atau APBD atau apapun namanya itu merontokkan yang namanya UMKM dan itu diakui juga oleh Menteri Sri Mulyani," katanya.

Kendala lain yang mempengaruhi sulit berkembangnya pelaku UMKM adalah tak mempunyai kemahiran untuk meningkatkan sumber daya manusianya dari sisi penjualan lewat e-commerce atau aplikasi online. "Itu pasti tidak akan pernah berhasil," ucapnya.

Ikhsan juga menyebutkan hambatan lainnya pelaku UMKM adalah permodalan.

Baca juga: BI Nilai UMKM Pangan Perlu Go Digital

"Alasan klasik yaitu permodalan, apabila mendapatkan order untuk yang besar ya harus butuh modal yang cepat. Padahal, tidak semua UMKM di Indonesia itu berhasil setelah meminjam. Pada saat dia sudah mulai bangkit dan ini harusnya lebih cepat untuk diberikan akses permodalan," ujarnya.

Terakhir adalah aksses pemasaran juga diperlukan dalam mendorong peningkatan omset UMKM.

"Salah satu contohnya Ini aku bangga menggunakan produk UMKM. Tapi, kalau kami dari asosiasi, jangan cuma aku bangga aku bangga. Tapi harus beli produk UMKM," katanya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X